JurnalPatroliNews – JAKARTA — Pemerintah memutuskan menahan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi hingga akhir 2026 dengan mempertimbangkan dampaknya terhadap beban hidup masyarakat dan pertumbuhan ekonomi nasional.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan, lonjakan harga minyak dunia akibat konflik di kawasan Teluk memang menekan fiskal negara. Namun, kebijakan menaikkan harga BBM dinilai berisiko besar terhadap daya beli masyarakat, khususnya kelompok berpenghasilan rendah.
“Ketika BBM naik, beban hidup rakyat banyak, terutama yang kecil, akan terganggu,” ujar Purbaya saat ditemui di kantin Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Selasa (7/4/2026).
Menurutnya, kenaikan harga BBM tidak hanya berdampak langsung pada biaya hidup, tetapi juga berpotensi memperlambat laju ekonomi. Hal ini karena konsumsi masyarakat akan tertekan seiring meningkatnya pengeluaran untuk kebutuhan energi.
Purbaya menjelaskan, perdebatan mengenai kenaikan harga BBM tidak semata-mata soal penerimaan negara, tetapi juga menyangkut efisiensi pengelolaan uang antara pemerintah dan masyarakat.
Ia menggambarkan, jika harga BBM dinaikkan, maka sebagian dana yang sebelumnya dibelanjakan masyarakat akan berpindah ke kas negara. Dana tersebut memang akan kembali dibelanjakan pemerintah, namun belum tentu seefisien pengeluaran langsung oleh masyarakat.
“Kalau BBM dinaikkan, uangnya jadi milik pemerintah. Tapi masyarakat harus bayar lebih. Ini bisa memperlambat ekonomi,” katanya.
Purbaya menilai, dalam praktiknya masyarakat cenderung lebih efisien dalam membelanjakan uang karena pengeluaran dilakukan sesuai kebutuhan sehari-hari. Sementara itu, belanja pemerintah harus dialokasikan ke berbagai sektor sehingga berpotensi kurang tepat sasaran.
“Belanja masyarakat biasanya langsung ke kebutuhan utama, sehingga lebih tepat. Sementara pemerintah harus membagi ke banyak sektor, yang kadang mengurangi efisiensi,” jelasnya.
Dengan pertimbangan tersebut, pemerintah memilih menahan harga BBM guna menjaga daya beli masyarakat sekaligus menopang pertumbuhan ekonomi di tengah tekanan global yang masih berlangsung.












