Komisi I DPR Soroti Kisruh Rating IGRS di Steam, Dinilai Picu Kebingungan Publik


JurnalPatroliNews – Jakarta – Polemik implementasi sistem rating gim nasional Indonesia Game Rating System (IGRS) di platform digital kembali menuai sorotan. Anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi PAN, Okta Kumala Dewi, menilai ketidaksesuaian klasifikasi usia pada sejumlah gim di platform Steam telah memicu kegaduhan di tengah masyarakat.

Okta menyampaikan bahwa pada prinsipnya, penerapan sistem rating gim merupakan langkah positif yang bertujuan memberikan panduan bagi masyarakat, khususnya orang tua, dalam memilih konten yang sesuai dengan usia anak.

“IGRS pada dasarnya adalah kebijakan yang baik. Sistem ini penting untuk membantu orang tua memastikan anak-anak mengakses gim yang sesuai dengan tahap perkembangan mereka,” ujar Okta kepada wartawan, Rabu (8/4/2026).

Namun demikian, ia menyayangkan adanya ketidaktepatan dalam implementasi di lapangan. Sejumlah gim dinilai memiliki klasifikasi usia yang tidak relevan, sehingga justru menimbulkan kebingungan di kalangan pengguna.

“Kita melihat adanya ketidaksesuaian dalam pemberian rating usia pada beberapa gim di platform seperti Steam. Hal ini tentu menimbulkan kegaduhan dan berpotensi menyesatkan pengguna,” tegasnya.

Menurut Okta, kondisi tersebut harus menjadi bahan evaluasi serius bagi seluruh pemangku kepentingan. Ia menekankan pentingnya pembenahan sistem agar IGRS dapat berjalan secara akurat, transparan, dan dapat dipercaya publik.

“Kesalahan dalam sistem rating ini harus segera dievaluasi. Jangan sampai kebijakan yang bertujuan melindungi justru menimbulkan keresahan di masyarakat,” katanya.

Lebih lanjut, Okta juga mendorong pemerintah untuk melibatkan komunitas gim dalam proses pengembangan dan implementasi IGRS. Ia menilai, komunitas memiliki pemahaman yang kuat terhadap ekosistem industri gim dan dapat memberikan masukan yang konstruktif.

“Keterlibatan komunitas gamers sangat penting agar kebijakan ini tepat sasaran. Dengan partisipasi mereka, sistem rating bisa lebih akurat dan sesuai dengan realitas di lapangan,” ujarnya.

Di sisi lain, Okta menilai industri gim daring di Indonesia memiliki potensi besar, terutama di kalangan generasi muda. Oleh karena itu, regulasi yang diterapkan harus mampu menjaga keseimbangan antara perlindungan pengguna dan pertumbuhan industri.

“Industri game online kita sangat potensial. Jangan sampai implementasi aturan yang kurang tepat justru menghambat perkembangannya. Regulasi harus mendukung pertumbuhan, sekaligus memberikan batasan usia yang jelas,” ucapnya.

Ia pun menegaskan bahwa sistem rating seperti IGRS tetap diperlukan, namun harus dijalankan secara tepat agar tidak menimbulkan polemik di tengah masyarakat.

“Kita ingin IGRS benar-benar menjadi panduan yang bermanfaat, bukan sumber kegaduhan. Dengan perbaikan sistem dan kolaborasi semua pihak, tujuan awal kebijakan ini bisa tercapai,” pungkasnya.