Benjamin Netanyahu Tegaskan Serangan Terhadap Hizbullah Akan Terus Berlanjut di Seluruh Lebanon

JurnalPatroliNews – Jakarta – Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menegaskan bahwa militer Israel (IDF) akan terus melancarkan serangan terhadap kelompok Hizbullah “di mana pun diperlukan”.

Pernyataan ini dikeluarkan di tengah eskalasi pertempuran yang kian hebat di wilayah Lebanon, yang memicu kekhawatiran global akan kegagalan upaya perdamaian di kawasan tersebut.

Melalui akun media sosial resminya pada Kamis (9/4), Netanyahu menyatakan bahwa operasi militer akan dijalankan dengan kekuatan penuh dan presisi tinggi hingga keamanan di wilayah utara Israel pulih sepenuhnya.

Dalam unggahan tersebut, ia juga menyertakan dokumentasi video serangan udara di Beirut yang diklaim berhasil menargetkan Ali Youssef Kharshi, sosok yang diidentifikasi sebagai sekretaris pribadi pemimpin Hizbullah, Naim Qassem.

“Pesan kami jelas: siapa pun yang menyerang warga sipil Israel akan kami hajar. Operasi ini menargetkan jalur perlintasan yang digunakan untuk memindahkan ribuan senjata, roket, dan peluncur milik musuh,” tegas Netanyahu.

Laporan Korban dan Operasi Darat IDF Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan dampak mematikan dari rangkaian serangan udara Israel yang terjadi pada Rabu (8/4). Sedikitnya 200 orang dilaporkan tewas dan lebih dari 1.000 lainnya mengalami luka-luka.

Militer Israel sendiri mengonfirmasi bahwa mereka terus melanjutkan operasi darat di Lebanon Selatan yang telah dimulai sejak awal Maret lalu.

Dalam operasi terbaru, IDF mengeklaim telah menghancurkan dua jalur logistik krusial yang digunakan Hizbullah untuk mendistribusikan persenjataan dari wilayah utara ke selatan Sungai Litani. Selain jalur distribusi, serangan tersebut diklaim melumpuhkan sekitar 10 gudang senjata, pusat komando, serta sejumlah titik peluncur roket.

Respons Lebanon dan Serangan Balasan Hizbullah Menanggapi jatuhnya ratusan korban sipil, Pemerintah Lebanon menetapkan hari Kamis (9/4) sebagai hari berkabung nasional.

Bendera nasional dikibarkan setengah tiang dan seluruh kantor pemerintahan ditutup sebagai bentuk penghormatan terhadap warga sipil yang menjadi korban gempuran udara tersebut. Perdana Menteri Lebanon mengutuk keras tindakan Israel yang dinilai menyasar warga tak bersenjata.

Hanya berselang beberapa jam setelah pengumuman hari berkabung, Hizbullah meluncurkan gelombang serangan roket balasan ke arah wilayah utara Israel. Suara sirene peringatan dilaporkan terdengar di berbagai pemukiman Israel di perbatasan utara.

Hizbullah menyatakan bahwa aksi tersebut merupakan respons atas pelanggaran kesepakatan gencatan senjata yang sebelumnya telah diinisiasi oleh Amerika Serikat dan Iran.

Situasi ini menempatkan kesepakatan jeda pertempuran dua pekan yang baru saja disepakati dalam posisi yang sangat rentan.

Para analis internasional khawatir eskalasi antara Israel dan Hizbullah ini dapat memicu keruntuhan total upaya deeskalasi konflik di Timur Tengah.