Gagal Capai Kesepakatan, Teheran Tuding Washington Hambat Kemajuan Perundingan Damai

JurnalPatroliNews – Jakarta -Pemerintah Iran secara resmi menyatakan bahwa perundingan damai dengan Amerika Serikat (AS) yang berlangsung di Islamabad, Pakistan, berakhir tanpa kesepakatan.

Teheran menilai tuntutan yang diajukan oleh delegasi Washington tidak masuk akal dan menjadi penghalang utama bagi tercapainya kemajuan dalam dialog tersebut.

Pernyataan kegagalan negosiasi ini disampaikan pada Minggu (12/4), mempertegas kebuntuan diplomatik di tengah eskalasi konflik yang terus memanas di kawasan Timur Tengah. Media pemerintah Iran, IRIB, melaporkan bahwa delegasi mereka telah berupaya maksimal selama perundingan maraton yang berlangsung selama 21 jam untuk melindungi kepentingan nasional.

“Delegasi Iran bernegosiasi secara terus-menerus dan intensif untuk melindungi kepentingan rakyat, namun tuntutan tidak masuk akal dari pihak Amerika menghalangi kemajuan negosiasi,” tulis laporan IRIB sebagaimana dilansir dari AFP.

Titik Tekan Selat Hormuz dan Nuklir Pihak Iran mengeklaim telah mengajukan berbagai inisiatif selama perundingan. Namun, inisiatif tersebut dinilai tidak mendapat respons konstruktif dari pihak AS.

Isu krusial yang menjadi sumber kebuntuan utama mencakup keberlanjutan program nuklir Iran serta kontrol strategis atas Selat Hormuz, jalur distribusi vital yang melayani sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

Di sisi lain, Wakil Presiden AS JD Vance mengeklaim bahwa Washington telah memberikan proposal final yang disebut sebagai tawaran terbaik.

AS mendesak adanya komitmen tegas dari Teheran terkait penghentian pengembangan senjata nuklir sebagai syarat mutlak perdamaian.

Sikap Skeptis dan Pengalaman Masa Lalu Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan sikap curiga yang mendalam terhadap niat Amerika Serikat.

Ia merujuk pada sejarah panjang hubungan diplomatik kedua negara yang menurutnya kerap diwarnai oleh janji-janji yang tidak ditepati oleh pihak Barat.

“Pengalaman kami bernegosiasi dengan Amerika selalu berujung pada kegagalan dan janji yang dilanggar,” tegas Ghalibaf dalam keterangannya.

Perundingan di Islamabad ini merupakan pertemuan tingkat tinggi pertama antara kedua negara dalam beberapa dekade terakhir.

Meskipun sempat memunculkan harapan global karena berlangsung di tengah masa gencatan senjata, perbedaan posisi yang terlalu tajam membuat dialog ini berakhir buntu.

Konflik yang pecah sejak akhir Februari lalu, menyusul serangan udara AS dan Israel ke wilayah Iran, kini kembali berada dalam ketidakpastian.

Kegagalan diplomasi di Pakistan ini diprediksi akan kembali mengguncang stabilitas kawasan serta memberikan sentimen negatif terhadap ekonomi global, terutama pada sektor energi dan jalur perdagangan internasional.