JurnalPatroliNews – Jakarta – Gelombang kedua misi kemanusiaan yang tergabung dalam “Global Sumud Flotilla” dijadwalkan berlayar dari pelabuhan Barcelona, Spanyol, pada Minggu (12/4). Misi ini merupakan upaya lanjutan dari para aktivis internasional untuk menembus blokade laut Israel dan menyalurkan bantuan langsung ke Jalur Gaza.
Sekitar 30 kapal yang membawa bantuan medis serta logistik akan memulai perjalanan dari Spanyol, dengan perkiraan sejumlah kapal tambahan akan bergabung di titik-titik persinggahan sepanjang rute menuju Palestina. Misi ini dilakukan menyusul kegagalan upaya pertama pada Oktober tahun lalu yang berakhir dengan penghadangan oleh militer Israel.
Kritik Terhadap Kebijakan Kemanusiaan Aktor Liam Cunningham, yang menjadi salah satu pendukung vokal aksi ini, menyatakan bahwa keberadaan armada sipil pembawa bantuan ini merupakan potret kegagalan pemerintah dunia dalam memenuhi kewajiban hukum internasional.
Ia menilai distribusi bantuan seharusnya menjadi tanggung jawab negara, bukan dibebankan kepada relawan sipil.
“Setiap kilogram bantuan di kapal-kapal ini adalah sebuah kegagalan. Orang-orang ini melakukan apa yang seharusnya menjadi kewajiban hukum pemerintah mereka,” ujar Cunningham dalam keterangannya kepada Reuters.
Senada dengan hal tersebut, aktivis Palestina Saif Abukeshak menegaskan bahwa fokus utama Global Sumud Flotilla adalah membuka koridor kemanusiaan yang aman bagi organisasi bantuan internasional agar dapat masuk secara konsisten ke wilayah konflik.
Blokade dan Protokol Internasional Israel, yang memegang kendali penuh atas akses keluar-masuk Jalur Gaza, berulang kali membantah adanya hambatan dalam penyaluran pasokan bagi lebih dari dua juta penduduk di sana.
Namun, warga Palestina beserta lembaga kemanusiaan internasional melaporkan bahwa jumlah bantuan yang diizinkan masuk masih jauh dari mencukupi kebutuhan dasar warga sipil.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga telah mengingatkan bahwa dalam situasi konflik bersenjata, negara memiliki kewajiban hukum untuk menjamin akses aman terhadap layanan medis dan kebutuhan pokok bagi penduduk sipil.
Catatan Insiden Sebelumnya Upaya pengiriman bantuan serupa pada Oktober 2025 lalu berujung pada ketegangan diplomatik setelah sekitar 40 kapal dihentikan secara paksa oleh militer Israel.
Dalam insiden tersebut, tercatat lebih dari 450 peserta aksi, termasuk aktivis lingkungan Greta Thunberg, ditangkap dan ditahan. Sejumlah aktivis dilaporkan mengalami perlakuan buruk selama masa penahanan, meskipun klaim tersebut dibantah oleh otoritas Israel.
Misi kali ini dilakukan di bawah pengawasan ketat komunitas internasional, dengan harapan bantuan medis yang dibawa dapat segera menjangkau warga di Gaza tanpa adanya gangguan keamanan di perairan internasional.














