JurnalPatroliNews – Jakarta – Panglima militer Israel, Eyal Zamir, secara resmi mengumumkan bahwa pihaknya telah menyetujui rencana strategis untuk melanjutkan operasi militer, baik di wilayah Lebanon maupun terhadap Iran.
Pernyataan ini menegaskan posisi Israel yang tetap menempuh jalur ofensif di tengah ketegangan regional yang terus meningkat.
Zamir mengungkapkan bahwa militer Israel, dalam koordinasi erat dengan Amerika Serikat, telah melancarkan serangan signifikan yang diklaim berhasil melumpuhkan sebagian besar sistem pertahanan Iran. Operasi tersebut dirancang untuk melemahkan kekuatan militer Teheran secara menyeluruh.
“Kami telah menyerang dengan keras, melucuti kemampuan pertahanan mereka, dan membuat mereka dalam posisi yang lemah,” ujar Zamir sebagaimana dikutip dari Al Jazeera, Kamis (16/4).
Peringatan Terkait Program Nuklir dan Hormuz Lebih lanjut, Zamir memberikan peringatan keras mengenai batasan-batasan yang tidak boleh dilanggar oleh Iran.
Ia menekankan bahwa Israel tidak akan memberikan ruang bagi Iran untuk mencapai kemajuan apa pun, terutama terkait dengan pengembangan isu nuklir maupun kendali di wilayah strategis seperti Selat Hormuz.
Menurut Zamir, Israel telah menyiapkan skenario serangan yang lebih kuat jika hal-hal sensitif tersebut terus diupayakan oleh Iran. “Kami tahu cara membuat mereka kewalahan dengan serangan kuat yang dapat dilakukan dalam waktu segera,” tambahnya.
Operasi di Lebanon Selatan Mengenai situasi di perbatasan utara, Zamir menyatakan bahwa operasi militer di wilayah selatan Lebanon tetap berjalan sesuai rencana.
Fokus utama militer Israel saat ini adalah penguasaan wilayah-wilayah yang dianggap strategis guna mengeleminasi ancaman langsung terhadap pemukiman warga Israel di utara.
Ia mengeklaim bahwa pasukan Israel tengah bergerak untuk merebut dan membersihkan area-area kunci dari keberadaan milisi bersenjata.
Langkah ini dipandang perlu guna menjamin stabilitas keamanan di sepanjang garis perbatasan yang selama ini menjadi titik panas konflik.
Pernyataan dari pucuk pimpinan militer ini mencerminkan kesiapan Israel untuk menghadapi konflik multifront, sekaligus memberikan tekanan diplomatik dan militer terhadap pengaruh Iran di kawasan Timur Tengah.












