JurnalPatroliNews – Jakarta – Hubungan diplomatik antara Israel dan Italia berada dalam fase ketegangan serius. Selain dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah, kemarahan Israel kini tertuju pada sampul terbaru majalah mingguan terkemuka Italia, L’Espresso, yang dinilai provokatif dan mendistorsi realitas.
Sampul edisi 10 April 2026 tersebut menampilkan tajuk utama “L’abuso” (Penyalahgunaan/Pelecehan). Ilustrasi sampul menggambarkan seorang pemukim Israel berseragam militer dengan senjata laras panjang, tengah menyeringai ke arah kamera sambil merekam seorang perempuan Palestina yang tampak tertekan.
Majalah politik tertua di Italia itu menggunakan gambar tersebut sebagai metafora atas tema besar mereka: “Sayap kanan Zionis membentuk Israel Raya”. Sejak Oktober 2023, L’Espresso konsisten mempertahankan garis editorial yang kritis terhadap kebijakan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan situasi kemanusiaan di Gaza.
Kecaman Diplomatik dan Bantahan Fotografer Duta Besar Israel untuk Italia, Jonathan Peled, melontarkan protes keras melalui platform X. Ia menuding majalah tersebut melakukan manipulasi visual untuk mempromosikan kebencian.
“Kami dengan tegas mengutuk penggunaan manipulatif dari sampul terbaru L’Espresso. Gambar tersebut mendistorsi realitas kompleks yang harus dihadapi Israel, serta mempromosikan stereotip dan kebencian,” tegas Peled.
Namun, tuduhan rekayasa tersebut langsung dibantah oleh jurnalis foto Pietro Masturzo. Melalui akun media sosialnya, Masturzo menegaskan bahwa foto tersebut adalah jepretan nyata (bukan hasil kecerdasan buatan/AI) yang diambil saat prosesi panen zaitun di desa Idhna, Tepi Barat, pada 12 Oktober 2025.
“Ekspresi di wajah pemukim tersebut muncul saat ia menirukan suara gembala yang mengumpulkan ternak, memperlakukan warga Palestina seolah-olah mereka adalah hewan ternaknya sendiri,” ungkap Masturzo, seraya melampirkan bukti video peristiwa tersebut.
Hubungan Roma-Tel Aviv di Titik Kritis Insiden sampul majalah ini memperkeruh hubungan bilateral yang sudah mulai retak. Pada 14 April 2026, Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni secara mengejutkan memutuskan untuk tidak memperpanjang perjanjian pertahanan dengan Israel secara otomatis.
Langkah simbolis ini diambil menyusul serangkaian insiden di lapangan, termasuk penembakan peringatan oleh pasukan IDF terhadap konvoi pasukan perdamaian UNIFIL asal Italia.
Selain itu, Italia sebelumnya sempat memanggil Dubes Peled terkait pembatasan akses ibadah terhadap Kardinal Pizzaballa di Yerusalem pada akhir Maret lalu.
Keputusan PM Meloni ini menandai pergeseran signifikan posisi politik Italia, yang selama ini dipandang sebagai salah satu sekutu terkuat Israel di blok Uni Eropa.













