JurnalPatroliNews – Jakarta – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menegaskan bahwa insiden penembakan yang mengguncang acara gala media di Washington tidak akan menyurutkan langkah pemerintahannya dalam melanjutkan konfrontasi militer dengan Iran.
Dalam konferensi pers yang digelar pada Sabtu (25/4) malam, Trump memastikan bahwa peristiwa tersebut tidak memengaruhi arah kebijakan luar negerinya.
Meski penyelidikan terhadap motif pelaku penembakan masih berlangsung, Trump menyatakan ketidakyakinannya bahwa serangan tersebut memiliki keterkaitan langsung dengan konflik yang sedang terjadi di Timur Tengah.
Ia menilai kecil kemungkinan adanya konspirasi internasional di balik aksi nekat yang terjadi di Hotel Washington Hilton tersebut.
“Ini tidak akan menghalangi saya untuk memenangkan perang di Iran. Saya tidak tahu apakah itu ada hubungannya, tapi saya rasa tidak,” ujar Trump saat memberikan keterangan kepada para jurnalis, sebagaimana dikutip dari laporan AFP.
Berdasarkan data awal yang diterima dari tim pengamanan, Trump menyebut pelaku sebagai seorang lone wolf atau pelaku tunggal yang bertindak atas kehendak sendiri.
Saat ini, pelaku telah diamankan oleh Secret Service dan dijadwalkan akan segera menjalani persidangan di pengadilan federal Amerika Serikat pada Senin (27/4).
Pernyataan keras ini muncul tak lama setelah insiden penembakan sempat menghentikan acara jamuan makan malam tahunan Asosiasi Koresponden Gedung Putih (WHCA).
Meskipun situasi keamanan domestik menjadi sorotan, Trump menekankan bahwa prioritas utamanya tetap tertuju pada keberlanjutan operasi militer di kawasan Teluk yang telah berlangsung selama hampir dua bulan terakhir.
Sejalan dengan ketegasan tersebut, Trump juga dilaporkan telah membatalkan rencana pengiriman utusan khusus ke Pakistan yang semula dijadwalkan untuk pembicaraan damai dengan pihak Iran.
Keputusan pembatalan itu diambil karena ia menganggap posisi tawar serta persyaratan negosiasi yang diajukan oleh Teheran tidak memuaskan dan tidak sejalan dengan kepentingan nasional Amerika Serikat.
Langkah ini menandakan semakin tertutupnya pintu diplomasi antara kedua negara di tengah meningkatnya tensi keamanan, baik di medan perang maupun di lingkungan domestik Amerika Serikat.












