JurnalPatroliNews – Jakarta – Peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day 2026 di Turki diwarnai bentrokan antara aparat kepolisian dan para demonstran. Polisi dilaporkan menembakkan gas air mata serta menangkap ratusan orang dalam aksi yang berlangsung di Istanbul pada Jumat (1/5/2026).
Sejak pagi, aparat keamanan telah melakukan penjagaan ketat di sejumlah titik strategis kota. Kawasan pusat demonstrasi seperti Lapangan Taksim Square ditutup total dan dipasangi barikade logam untuk mencegah massa berkumpul.
Berdasarkan pernyataan resmi kantor Gubernur Istanbul, hingga pukul 18.00 waktu setempat, sebanyak 575 orang ditangkap karena dianggap melanggar aturan keamanan dan mencoba menembus area terlarang.
Sementara itu, Asosiasi Pengacara CHD sebelumnya melaporkan sedikitnya 550 orang telah diamankan sejak siang hari.
Laporan media internasional France 24 menyebutkan aparat dikerahkan dalam jumlah besar, terutama di sekitar Lapangan Taksim yang selama ini menjadi simbol utama demonstrasi besar di Turki.
Ketika massa mencoba mendekati lokasi tersebut, polisi merespons dengan tembakan gas air mata dan semprotan merica untuk membubarkan kerumunan.
Presiden Partai Pekerja Turki, Erkan Baş, turut menjadi sasaran semprotan merica dalam insiden tersebut. Ia mengecam keras pembatasan ruang publik bagi demonstran dan menilai pekerja berhak menyuarakan penderitaan mereka.
“Mereka yang berkuasa sudah berbicara 365 hari setahun, jadi biarkan para pekerja berbicara tentang kesulitan yang mereka hadapi setidaknya satu hari dalam setahun,” ujarnya.
Pengamanan paling ketat difokuskan pada kelompok yang berusaha menuju Lapangan Taksim, yang telah ditutup sejak malam sebelumnya.
Seorang pejabat serikat pekerja, Basaran Aksu, juga turut ditangkap setelah secara terbuka mengkritik kebijakan penutupan ruang publik tersebut.
Menurutnya, pemerintah tidak seharusnya melarang pekerja menggunakan alun-alun sebagai ruang menyampaikan aspirasi.
“Anda tidak bisa menutup sebuah alun-alun bagi para pekerja Turki,” katanya.
Situasi serupa juga terjadi di distrik lain seperti Mecidiyekoy dan Besiktas. Polisi membubarkan massa yang meneriakkan slogan anti-pemerintah, dan dalam beberapa bentrokan terlihat demonstran dipaksa jatuh ke tanah saat proses penangkapan berlangsung.
Aksi Hari Buruh di Turki memang hampir setiap tahun diwarnai pengamanan besar dan bentrokan dengan aparat.
Pada tahun sebelumnya, lebih dari 400 orang juga ditangkap dalam demonstrasi serupa.
Tahun ini, para demonstran mengusung slogan “Roti, Perdamaian, Kebebasan” sebagai bentuk protes terhadap tekanan ekonomi yang semakin berat. Inflasi resmi di Turki saat ini berada di kisaran 30 persen, sementara sejumlah lembaga independen memperkirakan angka riilnya mendekati 40 persen.
Selain di Istanbul, aksi serupa juga berlangsung di ibu kota Ankara. Sekitar 100 penambang batu bara yang telah melakukan mogok makan selama sembilan hari turut bergabung dalam pawai, menuntut pembayaran upah yang belum mereka terima.
Ketegangan tersebut kembali menegaskan bahwa isu ketenagakerjaan dan tekanan ekonomi masih menjadi persoalan serius di Turki, terutama di tengah meningkatnya beban hidup masyarakat pekerja.














