AS Galang Dukungan DK PBB untuk Tekan Iran di Selat Hormuz


JurnalPatroliNews – Jakarta –  Amerika Serikat terus menggencarkan langkah diplomatik di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) dengan menggandeng negara-negara Teluk guna menekan Iran agar menghentikan serangan serta ancaman terhadap jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz.

Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menegaskan rancangan resolusi yang diajukan Washington bersama Bahrain, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Qatar menjadi ujian besar bagi kredibilitas PBB.

Langkah tersebut diambil setelah proposal serupa sebelumnya gagal disahkan akibat veto dari Rusia dan China.

“Tidak ada seorang pun yang ingin melihat hal ini diveto lagi, dan kami telah melakukan beberapa penyesuaian kecil pada bahasanya,” kata Marco Rubio kepada wartawan di Gedung Putih, seperti dikutip dari Reuters, Rabu (6/5/2026).

Menurut Rubio, dunia saat ini menanti apakah DK PBB benar-benar mampu menjalankan fungsinya sebagai penjaga perdamaian dan keamanan internasional.

“Saya pikir ini adalah ujian sesungguhnya bagi PBB sebagai lembaga yang berfungsi,” ujarnya.

Draf resolusi tersebut berisi kecaman terhadap dugaan pelanggaran gencatan senjata oleh Iran, termasuk aksi penyerangan terhadap kapal, penanaman ranjau laut, hingga ancaman penutupan serta pungutan terhadap kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz.

Dokumen itu juga menuntut Teheran segera menghentikan seluruh serangan, membuka lokasi ranjau yang dipasang, serta tidak menghalangi operasi pembersihan maupun jalur bantuan kemanusiaan.

“Yang kami minta hanyalah agar mereka mengutuknya, menyerukan kepada Iran untuk berhenti meledakkan kapal, menyingkirkan ranjau-ranjau ini, dan mengizinkan bantuan kemanusiaan untuk masuk,” tegas Rubio.

Selain menekan Iran melalui jalur diplomatik PBB, Washington juga menyiapkan skema keamanan maritim baru bernama Maritime Freedom Construct (MFC).

Koalisi maritim multinasional itu dirancang untuk membangun arsitektur keamanan pascakonflik di kawasan Timur Tengah sekaligus memastikan Selat Hormuz kembali aman dilalui kapal-kapal dagang global setelah situasi stabil.

Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu jalur pelayaran energi paling strategis di dunia, yang menjadi lintasan utama ekspor minyak dari kawasan Teluk ke pasar internasional. Gangguan di kawasan tersebut dinilai berpotensi besar mengguncang stabilitas ekonomi global, terutama harga energi dan rantai pasok dunia.