Drone Fiber Optik Hizbullah Jadi Ancaman Serius, Militer Israel Kewalahan di Lebanon Selatan


JurnalPatroliNews – Beirut – Militer Israel dilaporkan masih kesulitan menghadapi serangan drone fiber optik milik Hezbollah yang semakin canggih dan efektif menghantam pasukan serta kendaraan tempur mereka di Lebanon Selatan.

Teknologi udara tanpa awak tersebut kini disebut menjadi ancaman serius yang memaksa Tel Aviv terus mencari strategi baru untuk bertahan di tengah operasi militer yang terus berlangsung di wilayah perbatasan.

Mengutip laporan media Israel KAN pada Minggu (10/5), militer Israel baru-baru ini mulai menerapkan sistem penargetan cerdas di Lebanon Selatan guna meningkatkan kemampuan melacak sekaligus mencegat drone-drone Hizbullah yang sulit dideteksi.

Selain itu, ratusan alat bidik malam jenis “Dagger” juga telah didistribusikan kepada tentara Israel untuk meningkatkan akurasi tembakan terhadap target bergerak, khususnya dalam operasi malam hari saat serangan drone dinilai paling berbahaya.

KAN menyebut drone fiber optik Hizbullah telah berkembang menjadi salah satu tantangan operasional terbesar bagi militer Israel karena kemampuan deteksi dan intersepsinya sangat terbatas.

Situasi tersebut membuat pasukan Israel kerap berada dalam posisi rentan selama patroli maupun operasi darat di kawasan Lebanon Selatan.

Serangan-serangan itu terus berlangsung di tengah pelanggaran dan penetrasi harian Israel ke wilayah Lebanon selatan, meskipun gencatan senjata yang dimulai sejak 17 April dan diperpanjang hingga pertengahan Mei masih secara resmi berlaku.

Namun hingga kini, Israel disebut belum memiliki solusi yang benar-benar efektif untuk meredam ancaman tersebut.

Pada akhir April lalu, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu bahkan mengakui bahwa rudal dan drone Hizbullah merupakan dua tantangan besar bagi negaranya.

Ia disebut menekan para komandan militer agar segera menemukan strategi penangkal yang lebih ampuh untuk menghadapi serangan yang semakin intens.

Sejak serangan Israel ke Lebanon meningkat pada 2 Maret, tak lama setelah perang Iran pecah pada akhir Februari, lebih dari 2.700 orang dilaporkan tewas dan lebih dari satu juta lainnya mengungsi akibat konflik tersebut.

Sementara United States kembali memfasilitasi pembicaraan damai Lebanon-Israel di Washington pada 14–15 Mei mendatang, kondisi di medan perang Lebanon Selatan menunjukkan bahwa ketegangan masih jauh dari mereda.