Misi Pengamanan Selat Hormuz: Inggris Kirim HMS Dragon di Tengah Memanasnya Konflik Teluk

JurnalPatroliNews – Jakarta – Pemerintah Inggris secara resmi mengumumkan pengiriman kapal perang HMS Dragon ke kawasan Timur Tengah.

Langkah strategis ini diambil sebagai bagian dari persiapan misi internasional untuk menjamin kebebasan navigasi di Selat Hormuz, jalur perairan paling vital bagi distribusi minyak mentah dunia.

HMS Dragon, yang merupakan kapal penghancur canggih Tipe 45, sebelumnya disiagakan di Laut Mediterania timur, dekat Siprus.

Kementerian Pertahanan Inggris menegaskan bahwa pengerahan armada tempur ini adalah bagian dari perencanaan matang koalisi multinasional yang dipimpin bersama oleh Inggris dan Prancis.

Juru bicara Kementerian Pertahanan Inggris dalam keterangannya kepada AFP menyampaikan bahwa pra-penempatan HMS Dragon bertujuan memastikan kesiapan koalisi dalam mengamankan selat tersebut segera setelah kondisi di lapangan memungkinkan. Fokus utama dari misi ini adalah memulihkan kelancaran arus perdagangan global yang sempat terganggu akibat ketegangan regional.

Dukungan terhadap rencana pengamanan bersama ini telah disuarakan oleh Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, dan Presiden Prancis, Emmanuel Macron.

Kendati demikian, kedua pemimpin memberikan sinyalemen bahwa operasi penuh hanya akan dijalankan setelah eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran menunjukkan tren mereda.

Dalam keterangannya, Starmer menggarisbawahi bahwa Inggris tidak akan terlibat dalam tindakan ofensif terhadap pihak mana pun.

Senada dengan itu, Macron menekankan pentingnya koordinasi dengan otoritas setempat demi memastikan pembukaan akses Selat Hormuz berjalan tanpa memicu konflik baru.

Pengerahan kapal perang ini juga diproyeksikan untuk membangun kembali kepercayaan kapal dagang serta mendukung operasi pembersihan ranjau pasca-konflik.

Rencana pengamanan maritim ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan militer internasional di London pada April lalu.

Pertemuan yang dihadiri lebih dari 44 negara tersebut menghasilkan kesepakatan dari sekitar 40 negara untuk berpartisipasi dalam misi stabilisasi navigasi di wilayah Teluk.

Sebagaimana diketahui, sebelum ketegangan militer pecah pada akhir Februari lalu, sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz setiap harinya. Namun, arus pelayaran terhenti signifikan setelah terjadi pengetatan akses yang memicu gejolak pada pasar energi global.

Situasi di kawasan kembali memanas menyusul insiden baku tembak pada Jumat kemarin, di mana jet tempur Amerika Serikat dilaporkan menghantam kapal tanker berbendera Iran yang dianggap melanggar blokade maritim.

Rentetan peristiwa ini semakin mempertegas urgensi kehadiran misi internasional guna meredam potensi gangguan lebih lanjut pada jalur pelayaran strategis tersebut.