JurnalPatroliNews – SURABAYA — Direktur Geopolitik GREAT Institute, Teguh Santosa, menilai kebijakan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto saat ini merupakan manifestasi dari ideologi pembangunan yang berakar pada realisme politik global dan upaya membangun kedaulatan ekonomi nasional.
Hal itu disampaikan Teguh dalam acara “Pelatihan Digital Creator dan Program Magang Komunikasi Pembangunan 2026” yang diselenggarakan oleh Nexus Digital Strategy di Suites Hotel Surabaya, Senin (11/5/2026).
Menurut Teguh, kebijakan pemerintah bukanlah langkah sporadis, melainkan jawaban konkret atas kegelisahan yang pernah dituangkan Prabowo dalam buku Paradoks Indonesia.
Untuk menjelaskan kerangka berpikir tersebut, ia menggunakan tiga karya penting sebagai pisau analisis, yakni Politics Among Nations karya Hans J. Morgenthau, The Tragedy of Great Power Politics karya John J. Mearsheimer, serta Breakout Nations karya Ruchir Sharma.
Teguh yang juga mengajar Hubungan Internasional di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menjelaskan, fondasi pertama pembangunan Indonesia saat ini berpijak pada kesadaran bahwa sistem internasional bersifat anarkis, tanpa otoritas tertinggi yang dapat memaksakan aturan kepada negara-negara besar.
Mengacu pada teori Morgenthau, ia menilai kondisi tersebut membuat Indonesia harus memprioritaskan keamanan dan kepentingan nasional melalui sistem self-help yang mandiri.
Dalam perspektif realisme ofensif ala Mearsheimer, Teguh menilai dunia saat ini bergerak dari tatanan liberal menuju anarki, sehingga negara dipaksa terus memperkuat kekuasaan demi mempertahankan eksistensi.
“Karena itu, Prabowo melakukan pergeseran paradigma dari ekonomi liberal yang digerakkan pasar menjadi ekonomi berbasis intervensi negara atau state-driven,” ujarnya.
Ia juga menyoroti konsep inclusive security yang menurutnya menjadi pendekatan Indonesia saat ini, yakni keamanan yang dibangun melalui partisipasi aktif dan keterlibatan dalam menjaga stabilitas kawasan maupun internasional.
Selain itu, Indonesia disebut menerapkan prinsip active neutrality, yakni netralitas yang diambil berdasarkan kalkulasi kepentingan nasional, bukan tekanan dari pihak luar.
Teguh menyebut ideologi pembangunan Prabowo juga membawa warisan pemikiran ekonomi ayahnya, Soemitro Djojohadikusumo, yang dikenal dengan istilah “Soemitronomics”.
Implementasi hilirisasi industri, trilogi pembangunan, hingga pembentukan BPI Danantara dinilai sebagai langkah memperkuat struktur ekonomi nasional melalui industrialisasi yang masif.
Menurutnya, pendekatan itu juga dipadukan dengan gagasan sosialisme demokrasi, yang menekankan pengelolaan ekonomi nasional secara mandiri melalui koperasi dalam sistem demokratis, bukan model otoritarian seperti Marxisme-Leninisme.
“Tujuannya adalah menghapus praktik kapitalisme yang merugikan dan mewujudkan masyarakat adil melalui cara-cara demokratis, di mana pekerja memiliki akses terhadap alat produksi,” jelasnya.
Dalam praktik pembangunan, Teguh menilai modal manusia menjadi aset terpenting. Karena itu, program seperti Sekolah Rakyat dan akses pendidikan gratis bagi keluarga miskin dianggap sebagai pilar utama pembangunan jangka panjang.
Ia juga menilai program Makan Bergizi Gratis sebagai investasi strategis untuk meningkatkan produktivitas generasi mendatang serta mencegah stunting.
Di sektor ekonomi kerakyatan, pembentukan Koperasi Merah Putih disebut sebagai upaya desentralisasi kekuasaan ekonomi agar tidak terpusat pada segelintir elite.
Sementara di sektor energi, Teguh menilai Indonesia memiliki peluang besar membangun kedaulatan nasional melalui Energi Baru Terbarukan (EBT), seperti panas bumi, tenaga surya, dan bioenergi berbasis CPO.
Menurutnya, transisi energi bukan hanya isu lingkungan, tetapi juga strategi penting agar Indonesia tidak terus bergantung pada pasokan energi luar negeri.
Menutup paparannya, Teguh menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan membutuhkan sinergi antara kebijakan negara yang kuat dan dukungan aktif masyarakat.
“Ideologi pembangunan ini adalah peta jalan menuju Indonesia yang kuat, mandiri, dan bermartabat di panggung global,” pungkasnya.














