Prabowo Hidupkan Kembali Ingatan tentang Marsinah, Fahri: Negara Tak Boleh Lupa Perjuangan Buruh


JurnalPatroliNews – JAKARTA – Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Fahri Hamzah menilai langkah Presiden Prabowo Subianto meresmikan Museum Marsinah dan berziarah ke makam aktivis buruh tersebut sebagai pengingat bahwa negara tidak boleh melupakan perjuangan kaum pekerja.

Melalui akun X resminya, Fahri menyoroti momen ketika Prabowo datang langsung ke Desa Nglundo, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, pada Sabtu (16/5/2026), untuk meresmikan Museum Ibu Marsinah yang dibangun dari iuran buruh dan diprakarsai oleh Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia.

“Barangkali kita melupakan Marsinah. Presiden mengingatkan!” tulis Fahri, dikutip Senin (18/5/2026).

Menurut Fahri, peresmian museum dan pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Marsinah menjadi peristiwa penting karena negara akhirnya memberikan penghormatan kepada buruh perempuan yang dibunuh setelah memperjuangkan hak-hak pekerja pada 1993 silam.

Ia menegaskan, Marsinah bukan sekadar simbol perjuangan, melainkan sosok yang memperjuangkan hak dasar buruh, mulai dari upah layak hingga perlindungan negara terhadap pekerja.

“Seorang presiden Indonesia berziarah ke makam seorang buruh perempuan yang kasus hukumnya tidak pernah tuntas diadili. Yang namanya selama bertahun-tahun lebih sering disebut di spanduk demonstrasi daripada di kantor pemerintah apalagi istana. Itu bukan sesuatu yang bisa diremehkan,” tulisnya.

Fahri juga mengutip pidato Prabowo saat peresmian museum yang menyebut tragedi kematian Marsinah seharusnya tidak perlu terjadi di negara yang berdiri di atas dasar Pancasila dan keadilan sosial.

Menurutnya, langkah simbolik tersebut memiliki makna besar dalam menghidupkan kembali ingatan kolektif bangsa terhadap sejarah perjuangan buruh Indonesia.

Namun demikian, Fahri menegaskan penghormatan terhadap Marsinah tidak boleh berhenti pada seremoni, pembangunan museum, maupun pemberian gelar pahlawan semata.

Ia menilai negara harus memastikan keberpihakan terhadap pekerja benar-benar diwujudkan dalam kebijakan nyata yang melindungi dan memperkuat posisi buruh.

“Sekarang giliran kita memastikan bahwa penghormatan itu bukan hanya terjadi di depan kamera — tapi terus mengalir dalam setiap kebijakan yang melindungi dan berpihak kepada pekerja,” tandasnya.