Kisah Pilu Odai Shanah, Bocah Asal Gaza yang Trauma Usai Saksikan Korban Bergelimpangan di San Diego

JurnalPatroliNews – Jakarta – Pengalaman mencekam dan traumatik mendera seorang bocah laki-laki berusia sembilan tahun bernama Odai Shanah. Anak keturunan Gaza, Palestina tersebut menjadi salah satu saksi mata kunci yang berada di lokasi kejadian saat aksi penembakan horor melanda sebuah kompleks masjid di kota San Diego, Amerika Serikat, pada Senin (18/5).

Demi menyelamatkan nyawanya, sang bocah bersama rekan-rekan sebayanya terpaksa mengisolasi diri dan bersembunyi di dalam ruang kelas saat insiden berdarah itu berkecamuk.

Shanah membagikan lembaran kesaksiannya yang penuh ketakutan mengenai situasi mencekam di Islamic Center of San Diego tersebut kepada kantor berita Reuters, beberapa jam pasca-kejadian mereda.

Pihak jurnalis Reuters sendiri dipastikan telah mengantongi izin resmi dari orang tua Shanah sebelum merilis dan mempublikasikan pernyataan sang anak ke ruang publik.

Dalam penuturan awalnya, Shanah mengaku mendengarkan dengan jelas adanya rentetan suara tembakan senjata api yang bersumber dari area luar bangunan.

Sebagai informasi, titik lokasi kejadian perkara ini memang tidak hanya difungsikan sebagai rumah ibadah atau masjid semata, melainkan juga mengintegrasikan sebuah fasilitas sekolah Islam yang berdiri dalam satu kawasan kompleks yang sama.

Shanah menguraikan bahwa sesaat setelah suara letusan senjata api mulai memecah kesunyian, dirinya langsung diarahkan untuk masuk ke dalam sebuah lemari guna bersembunyi dari kejaran pelaku.

Dari dalam ruang lemari yang sempit dan dihuni oleh beberapa anak-anak lainnya tersebut, ia mengaku terus mendengarkan belasan dentuman suara tembakan susulan yang mengerikan.

Ia menjabarkan bahwa posisi lemari tempat persembunyiannya tersebut terletak di bagian dalam salah satu ruang kelas sekolah.

Begitu situasi di luar mulai senyap dan suara desingan peluru berhenti, Shanah mendengar gemuruh teriakan dari para personel tim SWAT kepolisian setempat dari arah luar koridor, sesaat sebelum petugas mendobrak dan membuka pintu ruang kelas untuk melakukan prosedur evakuasi penyelamatan.

Trauma Mendalam dan Laporan Korban Jiwa Aparat Keamanan Momen evakuasi tersebut menyisakan memori kelam tersendiri bagi sang bocah.

Saat melangkah keluar dari area persembunyian, Shanah mengaku melihat banyak sekali pemandangan visual yang buruk, termasuk menyaksikan orang-orang yang sudah tergeletak di lantai serta hal-hal mengerikan lainnya.

Dampak psikologis akibat melihat pemandangan keji tersebut langsung menyerang kondisi fisik sang anak. Shanah mengeluhkan bahwa kedua kakinya mendadak gemetar hebat, disertai rasa sakit yang mendera bagian tangan serta kepalanya.

Ia bahkan menganalogikan kondisi tubuhnya yang mendadak kaku dan berat seperti sebongkah batu akibat syok berat yang dialaminya.

Sementara itu, berdasarkan dokumen laporan resmi yang diterbitkan oleh jajaran aparat keamanan dan kepolisian wilayah San Diego, insiden penembakan massal di tempat ibadah ini dikonfirmasi telah memakan korban jiwa.

Peristiwa tersebut dilaporkan merenggut nyawa tiga orang korban. Di sisi lain, dua orang yang diidentifikasi sebagai pelaku penyerangan juga ditemukan dalam kondisi tewas di lokasi kejadian sesaat setelah rentetan insiden horor tersebut berakhir.

Berita Lainnya