JurnalPatroliNews | Jakarta – Program Studi Hubungan Internasional Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) menggelar kuliah umum bertema “Islamabad Negotiations: An Iranian Perspective” pada Rabu, 13 Mei 2026. Kegiatan tersebut menghadirkan Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, dengan moderator Setya Ambar Pertiwi.
Kuliah umum ini turut melibatkan Asosiasi Ilmu Hubungan Internasional serta masyarakat umum sebagai bentuk perhatian terhadap konflik perang yang telah memakan banyak korban jiwa dan berdampak luas terhadap kondisi global, termasuk sektor ekonomi dan perdagangan internasional.
Dalam pemaparannya, Dubes Iran menegaskan bahwa Republik Islam Iran tidak pernah memulai konflik ataupun perang dengan negara lain. Menurutnya, Iran selama ini konsisten mengedepankan prinsip perdamaian.
Ia menjelaskan bahwa serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran telah menimbulkan korban jiwa serta memengaruhi stabilitas global, khususnya jalur perdagangan internasional di kawasan Selat Hormuz.
“Republik Islam Iran belum pernah memicu konflik atau perang dengan negara lain. Kami selalu membela perdamaian,” ujar Boroujerdi.
Menurutnya, terdapat kesalahan perhitungan dari pihak Amerika Serikat yang memperkirakan Iran dapat dilemahkan dalam waktu singkat. Namun, kondisi di lapangan justru menunjukkan konflik berkepanjangan yang memperkuat solidaritas rakyat Iran terhadap pemerintahnya.
Boroujerdi juga menekankan bahwa kekuatan utama Iran terletak pada persatuan nasional, dukungan masyarakat, serta investasi besar dalam pengembangan sumber daya manusia. Iran, kata dia, terus memperkuat sektor pendidikan, ilmu pengetahuan, dan teknologi, termasuk teknologi pertahanan dan energi nuklir.
Ia turut menyoroti kemampuan Iran dalam mengembangkan teknologi rudal secara mandiri dengan biaya yang dinilai lebih efisien dibandingkan sistem pertahanan sejumlah negara lain.
Selain itu, Dubes Iran menyampaikan kritik terhadap Amerika Serikat dan Israel yang dinilai telah melanggar hukum internasional dan prinsip hak asasi manusia. Ia juga menilai sejumlah organisasi internasional belum mampu menjalankan fungsi secara efektif dalam merespons konflik yang terjadi.
Dalam kesempatan tersebut, Boroujerdi menegaskan dukungan Iran terhadap penghentian perang di Lebanon dan Gaza serta pentingnya kemerdekaan Palestina sebagai bagian dari upaya menciptakan perdamaian kawasan.
Terkait proses negosiasi internasional, ia mengungkapkan bahwa Iran memiliki pengalaman kurang baik dalam implementasi berbagai kesepakatan dengan negara-negara Barat, termasuk mediasi yang pernah melibatkan Oman maupun Pakistan. Karena itu, Iran memandang perlu adanya jaminan yang lebih kuat dalam pelaksanaan kesepakatan gencatan senjata dan perdamaian jangka panjang.
Pada sesi penutup, Boroujerdi menyoroti perubahan geopolitik global akibat perang yang sedang berlangsung, mulai dari pergeseran konsep kekuasaan, hegemoni, hingga keseimbangan internasional.
Ia berharap kalangan akademisi dan mahasiswa dapat lebih kritis dalam menganalisis dinamika geopolitik dunia, peran organisasi internasional, serta penyebaran informasi dan hoaks dalam konflik global. Menurutnya, akademisi memiliki peran strategis dalam menghadirkan rekomendasi kebijakan yang berbasis fakta, kemanusiaan, dan perdamaian.
Sementara itu, Kepala Program Studi Hubungan Internasional Nadirah menilai konflik antara Iran dan Amerika Serikat tidak hanya berdampak pada aspek militer, tetapi juga memengaruhi sektor ekonomi dan sosial di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Ia berharap seluruh pihak dapat mendukung jalur diplomasi dan mematuhi hasil negosiasi yang telah disepakati guna mencegah konflik semakin meluas serta menjaga stabilitas dan perdamaian internasional.
Acara kemudian ditutup dengan sesi tanya jawab interaktif yang membahas isu technological sovereignty, pengembangan sumber daya manusia unggul, hingga dukungan masyarakat Iran dalam menghadapi tekanan internasional.














