JurnalPatroliNews – JAKARTA — Kesalahan informasi yang disampaikan Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan hingga membuat Presiden Prabowo Subianto keliru menyebut nama desa saat kunjungan panen raya di Kebumen, Jawa Tengah, dinilai tidak dapat dianggap sepenuhnya sepele.
Direktur Pusat Riset Politik, Hukum dan Kebijakan Indonesia (PRPHKI) Saiful Anam menilai insiden tersebut memang bersifat teknis, namun tetap mencerminkan tingkat ketelitian dan profesionalitas pejabat publik di level strategis pemerintahan.
“Dalam konteks ini, pernyataan Zulkifli Hasan yang keliru menyebut nama desa saat kunjungan Prabowo Subianto memang bisa dipandang sebagai hal yang sepele, tetapi tetap mencerminkan aspek ketelitian dan profesionalitas seorang pejabat publik,” kata Saiful kepada RMOL, Senin (25/5/2026).
Menurut pengamat politik dari Universitas Nasional itu, akurasi dalam komunikasi publik memiliki dampak langsung terhadap tingkat kepercayaan masyarakat dan kredibilitas pemerintah secara keseluruhan.
“Dalam jabatan strategis seperti Menko Pangan, akurasi komunikasi menjadi penting karena berkaitan dengan kepercayaan publik dan kredibilitas pemerintah secara keseluruhan,” ujarnya.
Meski demikian, Saiful berpandangan bahwa wacana reshuffle kabinet tidak seharusnya didasarkan hanya pada satu insiden komunikasi. Evaluasi terhadap seorang menteri, kata dia, harus lebih menitikberatkan pada capaian kinerja sektoral.
“Yang lebih substansial adalah kinerja sektoral yang menjadi tanggung jawabnya. Dalam kondisi ekonomi Indonesia yang sedang melambat, serta sektor perdagangan yang menunjukkan tanda-tanda pelemahan, maka peran Menteri Perdagangan yang juga dijabat oleh Zulhas menjadi krusial,” jelasnya.
Ia menambahkan, evaluasi hingga pergantian menteri merupakan hal yang wajar apabila indikator kinerja tidak sesuai dengan target pemerintah.
“Jika indikator kinerja tidak menunjukkan hasil yang sesuai target, maka secara prinsip, evaluasi bahkan reshuffle adalah langkah yang wajar dalam sistem pemerintahan yang ingin tetap akuntabel,” tegasnya.
Namun, Saiful mengingatkan bahwa keputusan reshuffle kabinet di Indonesia tidak semata ditentukan faktor kinerja. Pertimbangan politik dan keseimbangan koalisi pemerintahan juga kerap menjadi faktor penentu.
Menurut dia, posisi Partai Amanat Nasional yang dipimpin Zulhas sebagai bagian dari koalisi pemerintah membuat Menteri Koordinator Bidang Pangan itu memiliki posisi tawar yang kuat.
“Dalam banyak kasus, keputusan reshuffle tidak semata-mata berbasis kinerja, tetapi juga mempertimbangkan stabilitas politik dan keseimbangan kekuatan antarpartai,” katanya.
“Status Zulhas sebagai Ketua Umum PAN tentu memberikan posisi tawar yang kuat dalam koalisi pemerintahan. Kedekatan dengan Presiden Prabowo juga bisa menjadi faktor yang memperkecil kemungkinan reshuffle terhadap dirinya secara langsung,” sambung Saiful.
Sebelumnya, Presiden Prabowo menghadiri panen raya udang di Kebumen, Jawa Tengah, Sabtu (23/5/2026). Saat memberikan sambutan, Prabowo sempat salah menyebut nama desa lokasi acara.
“Terima kasih saya diundang ke sini Desa Karang Duwur,” ujar Prabowo.
Warga yang hadir kemudian mengoreksi bahwa lokasi acara berlangsung di Desa Tegalretno, Kecamatan Petanahan. Menanggapi koreksi tersebut, Prabowo sempat melontarkan candaan dengan menyebut nama Zulhas.
“Waduh ini Menko tadi salah nama, perlu direshuffle enggak ini kira-kira?” kata Prabowo yang disambut tawa warga.














