AS Kembali Gempur Wilayah Iran Selatan, Donald Trump Beri Ancaman Keras ke Teheran

JurnalPatroliNews – Jakarta – Eskalasi ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali memanas setelah militer Amerika Serikat dilaporkan meluncurkan serangan udara susulan ke wilayah Iran bagian selatan.

Operasi penggempuran tersebut dilancarkan oleh pihak Washington pada hari Kamis di tengah kondisi jalannya meja negosiasi perdamaian antara kedua negara yang kian rapuh.

Sejumlah saluran media lokal Iran mengabarkan adanya dentuman tiga suara ledakan keras yang terdengar menggelegar di kawasan kota pelabuhan Bandar Abbas pada waktu dini hari.

Insiden mendebarkan tersebut meletus hanya berselang beberapa hari saja setelah pasukan militer Amerika Serikat melakoni aksi serangan serupa di titik koordinat yang sama.

Seorang pejabat tinggi pemerintahan Amerika Serikat mengonfirmasi bahwa barisan pasukannya berhasil merontokkan empat unit pesawat nirawak atau drone tempur milik Iran di sekitar Selat Hormuz.

Otoritas khusus dari Komando Pusat AS melepaskan tembakan pelumpuhan karena menilai empat drone serang satu arah tersebut telah memicu ancaman nyata bagi keamanan jalur pelayaran internasional.

Selain merontokkan unit drone di udara, armada tempur Amerika Serikat juga menyasar stasiun kendali darat milik Iran yang posisinya terdeteksi berada di wilayah Bandar Abbas.

Langkah penghancuran pangkalan darat tersebut terpaksa ditempuh petugas karena fasilitas militer itu kedapatan bersiap untuk meluncurkan unit drone kelima ke wilayah udara bebas.

Ancaman Keras Donald Trump dan Status Siaga Penuh Pasukan Garda Revolusi

Rangkaian serangan udara terbaru dari militer Pentagon ini menggelinding tepat setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali melempar ultimatum keras kepada pihak Teheran.

Trump mendesak agar pemerintah Iran segera menaruh tanda tangan persetujuan atas draf kesepakatan damai yang telah disodorkan oleh pihak Washington.

Dalam jalannya rapat kabinet yang digelar di Gedung Putih, Trump menilai bahwa sejauh ini iktikad dari Iran untuk berdamai masih belum menyentuh hasil yang memuaskan bagi Amerika.

Pengusaha properti tersebut bahkan tidak segan-segan melayangkan ancaman bahwa pihaknya siap mengambil opsi militer pamungkas untuk menyelesaikan sekalian seluruh sisa pekerjaan tersebut.

Lebih lanjut, Presiden ke-45 Amerika Serikat tersebut juga menolak mentah-mentah mengenai adanya peluang keterlibatan pihak Iran dan Oman dalam mengontrol jalur Selat Hormuz.

Trump menegaskan bahwa kawasan perairan Selat Hormuz mutlak berstatus sebagai perairan internasional yang aksesnya wajib terbuka bebas bagi semua negara di dunia.

Dirinya memperingatkan negara Oman agar bertindak selaras dengan aturan global atau bersiap menghadapi konsekuensi fatal dari militer Amerika Serikat.

Pernyataan frontal yang dilemparkan oleh pucuk pimpinan Gedung Putih tersebut langsung memicu perhatian dunia internasional lantaran Oman selama ini memegang peran krusial sebagai mediator utama dalam dialog damai AS-Iran.

Merespons gertakan tersebut, pejabat tinggi Garda Revolusi Iran, Mohammad Akbarzadeh, menilai potensi pecahnya perang terbuka berskala besar di lapangan sebenarnya masih berada pada level yang rendah.

Akbarzadeh mengklaim rendahnya potensi konflik bersenjata itu disebabkan oleh faktor kelemahan yang ada pada internal pasukan musuh.

Kendati demikian, jajaran komando militer Iran menegaskan tidak akan lengang dan memastikan seluruh pasukannya kini berada dalam status siaga penuh dengan persediaan amunisi peluru yang lengkap.