Mengenal Gas Metana, Senyawa Mudah Terbakar yang Diduga Picu Kebakaran Misterius di Sleman


JurnalPatroliNews – YOGYAKARTA – Fenomena kebakaran berulang yang terjadi di sebuah rumah warga di Kecamatan Sayegan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), memunculkan perhatian luas publik. Dalam kurun sekitar 10 hari, sejak 23 Mei hingga 1 Juni 2026, rumah tersebut dilaporkan mengalami kebakaran misterius hingga puluhan kali.

Dosen sekaligus Asisten Profesor Departemen Teknik Geologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Sarju Winard, menduga peristiwa tersebut berkaitan dengan akumulasi gas metana di dalam rumah. Menurutnya, material berpori seperti kayu, kain, dan berbagai perabot rumah tangga dapat menyerap serta menyimpan gas dalam jumlah tertentu.

Apabila terakumulasi dalam konsentrasi tinggi, gas metana berpotensi memicu kebakaran ketika bertemu percikan api, sumber panas, maupun aliran listrik. Untuk memastikan dugaan tersebut, tim geolog UGM berencana melakukan pemeriksaan lanjutan terhadap kandungan gas di lokasi, termasuk pengujian sampel air sumur dan jaringan pipa milik warga.

Apa Itu Gas Metana?

Gas metana (CHâ‚„) merupakan senyawa hidrokarbon paling sederhana yang terbentuk secara alami melalui proses pembusukan bahan organik tanpa kehadiran oksigen atau dikenal sebagai proses anaerob.

Metana banyak ditemukan di tempat pembuangan akhir (TPA), rawa-rawa, lahan gambut, endapan bawah tanah, hingga lokasi penimbunan limbah organik. Gas ini tidak berwarna dan tidak berbau, namun memiliki sifat sangat mudah terbakar.

Keberadaan metana sering kali tidak disadari karena sulit terdeteksi tanpa alat khusus. Padahal, dalam kondisi tertentu, akumulasi gas ini dapat menimbulkan risiko keselamatan yang serius.

Selain terbentuk secara alami, aktivitas manusia juga menjadi sumber utama emisi metana. Sektor peternakan, persawahan, pengelolaan sampah, hingga industri minyak dan gas diketahui menghasilkan metana dalam jumlah besar. Kebocoran pipa gas serta pengelolaan limbah yang kurang optimal juga dapat menyebabkan pelepasan gas ini ke atmosfer.

Dalam beberapa kasus, metana dapat berasal dari lapisan batuan bawah tanah dan keluar melalui retakan tanah, sumur air, maupun celah geologis lainnya.

Dampak dan Bahaya Gas Metana

1. Menyebabkan Gangguan Kesehatan

Paparan metana dalam konsentrasi tinggi dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan. Gejala yang umum terjadi meliputi pusing, mual, sakit kepala, gangguan penglihatan, hingga penurunan kesadaran.

Meski metana sendiri tidak tergolong racun akut, gas ini dapat menggantikan oksigen di udara. Kondisi tersebut berisiko menyebabkan hipoksia atau kekurangan oksigen yang dapat berakibat fatal jika tidak segera ditangani.

Selain itu, metana berkontribusi terhadap pembentukan ozon troposfer, yakni polutan udara yang dapat memperburuk penyakit pernapasan seperti asma dan gangguan paru-paru.

2. Sangat Mudah Terbakar

Salah satu karakteristik utama metana adalah sifatnya yang sangat mudah terbakar. Ketika terakumulasi di ruang tertutup dengan konsentrasi tertentu, gas ini dapat memicu kebakaran atau bahkan ledakan jika terkena percikan api, panas tinggi, maupun sumber listrik.

Karakteristik inilah yang diduga menjadi salah satu penyebab kebakaran berulang di Sayegan, Sleman, meskipun penyebab pastinya masih menunggu hasil investigasi ilmiah.

3. Menyumbang Pencemaran Udara

Metana merupakan salah satu gas yang berperan dalam pembentukan ozon permukaan atau ozon troposfer. Berbeda dengan lapisan ozon di stratosfer yang melindungi bumi dari radiasi ultraviolet, ozon troposfer justru menjadi polutan yang membahayakan kesehatan manusia.

Emisi metana dari sektor industri, pertanian, peternakan, dan pengelolaan sampah menjadi salah satu faktor utama penurunan kualitas udara di berbagai wilayah.

4. Mempercepat Pemanasan Global

Metana juga dikenal sebagai salah satu gas rumah kaca paling kuat. Dalam periode 20 tahun, kemampuan metana menjebak panas di atmosfer diperkirakan mencapai sekitar 80 kali lebih besar dibandingkan karbon dioksida (COâ‚‚).

Karena itu, meskipun jumlahnya lebih sedikit dibandingkan COâ‚‚, metana memiliki kontribusi signifikan terhadap perubahan iklim global. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa emisi metana menyumbang sekitar 30 persen pemanasan global sejak era pra-industri.

Dengan sifatnya yang mudah terbakar serta dampaknya terhadap kesehatan dan lingkungan, keberadaan gas metana perlu mendapat perhatian serius. Investigasi yang tengah dilakukan tim geolog UGM di Sleman diharapkan dapat mengungkap penyebab pasti kebakaran misterius yang telah meresahkan warga setempat.

Komentar