JurnalPatroliNews | Jakarta – Tekanan terhadap rupiah berlanjut pada perdagangan Senin (8/6/2026). Dolar AS berhasil menembus level psikologis Rp18.100 dan terus menguat.
Menurut data Bloomberg, kurs USD/IDR sempat menyentuh Rp18.114,5 di awal perdagangan, kemudian naik hingga Rp18.132 per dolar AS pada pukul 09.11 WIB. Angka ini naik sekitar 0,53 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp18.036. Pergerakan ini mendekatkan rupiah ke titik terlemah sepanjang tahun 2026, setelah sebelumnya sempat menyentuh di atas Rp18.150 pada awal Juni.
Pelemahan rupiah dipicu faktor eksternal, antara lain penguatan dolar AS secara global, ketidakpastian ekonomi dunia, serta kekhawatiran investor terhadap prospek negara berkembang. Situasi ini memicu arus modal keluar dari pasar emerging markets, termasuk Indonesia.
Bank Indonesia (BI) terus berupaya menstabilkan nilai tukar melalui intervensi pasar valuta asing, transaksi spot, instrumen derivatif, dan kebijakan moneter lainnya. Meski demikian, cadangan devisa Indonesia mengalami penurunan akibat upaya stabilisasi dan pembayaran utang luar negeri.
Pemerintah menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih relatif kuat. Koordinasi antara pemerintah, BI, dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus dilakukan untuk menjaga stabilitas pasar keuangan di tengah gejolak global.
Pasar kini menanti sentimen baru dari Amerika Serikat, terutama arah kebijakan suku bunga dan data ekonomi global. Jika tekanan eksternal belum mereda, rupiah berpotensi kembali tertekan dan sulit bertahan di bawah level Rp18.000 per dolar AS.















Komentar