JurnalPatroliNews | Jenewa – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengeluarkan peringatan serius terkait gelombang panas ekstrem yang terus melanda kawasan Eropa. Fenomena cuaca tersebut kini bergerak dari wilayah barat menuju Eropa tengah dan timur, mengancam ratusan juta penduduk serta memicu lonjakan korban jiwa.
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengungkapkan bahwa sekitar 150 juta orang saat ini hidup di bawah kondisi suhu panas yang sangat ekstrem. Dampaknya tidak hanya dirasakan pada sektor kesehatan, tetapi juga mengganggu aktivitas pendidikan, pasokan listrik, hingga layanan publik di berbagai negara.
“Saat ini 150 juta orang hidup di bawah suhu panas ekstrem, ratusan orang telah meninggal, sekolah-sekolah ditutup, dan jaringan listrik kewalahan,” ujar Tedros melalui akun resminya di platform X.
Ia menegaskan bahwa Eropa kini menjadi kawasan yang mengalami pemanasan paling cepat di dunia.
“Eropa adalah benua yang paling cepat memanas di Bumi, dengan laju pemanasan dua kali lebih cepat dibandingkan rata-rata global,” tegasnya.
Laporan terbaru menunjukkan gelombang panas semakin meluas ke wilayah Eropa bagian tengah dan timur. Negara-negara seperti Republik Ceko, Hungaria, dan Polandia mencatat lonjakan suhu yang memecahkan rekor nasional dalam beberapa hari terakhir.
Berdasarkan analisis yang dihimpun AFP, sekitar 191 juta penduduk Eropa diperkirakan akan mengalami suhu udara di atas 35 derajat Celsius, kondisi yang dinilai berisiko tinggi terhadap kesehatan, khususnya bagi kelompok lanjut usia, anak-anak, serta penderita penyakit kronis.
WHO juga melaporkan bahwa sejak 21 Juni 2026, sedikitnya 1.300 orang meninggal dunia akibat dampak langsung maupun tidak langsung dari gelombang panas yang melanda kawasan tersebut.
Selain Republik Ceko, Hungaria, dan Polandia, rekor suhu tertinggi juga tercatat di sejumlah negara lain, termasuk Jerman, Inggris, dan Swiss, yang dalam beberapa hari terakhir mengalami kondisi cuaca jauh di atas rata-rata musim panas.
Para ahli menilai meningkatnya frekuensi dan intensitas gelombang panas merupakan salah satu dampak nyata perubahan iklim global. Kondisi ini diperkirakan akan semakin sering terjadi apabila upaya pengendalian emisi gas rumah kaca tidak dilakukan secara serius oleh negara-negara di dunia.
WHO pun mengimbau pemerintah di seluruh kawasan Eropa untuk memperkuat sistem mitigasi bencana cuaca ekstrem, meningkatkan perlindungan bagi kelompok rentan, serta memastikan fasilitas kesehatan tetap siap menghadapi potensi lonjakan pasien akibat suhu tinggi yang diperkirakan masih akan berlangsung dalam beberapa hari ke depan.













Komentar