Rusia Disebut Siapkan Puluhan Ribu Pasukan Korut, Zelensky Minta Korsel Bertindak

JurnalPatroliNews | Kyiv – Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengungkap klaim mengejutkan mengenai meningkatnya keterlibatan Korea Utara dalam perang Rusia-Ukraina.

Zelensky menyebut Pyongyang telah memutuskan mengerahkan sekitar 30 ribu hingga 50 ribu personel Korea Utara ke wilayah Rusia.

Klaim tersebut disampaikan Zelensky melalui unggahan media sosial dan kembali menjadi sorotan pada Minggu (9/8/2026).

Menurut Zelensky, jumlah warga Korea Utara yang berada di Rusia untuk mendukung kepentingan militer Moskow terus meningkat.

“Warga Korea Utara muncul di wilayah Federasi Rusia dari waktu ke waktu. Awalnya, kita berbicara tentang ratusan, kemudian ribuan, dan sekarang telah diputuskan untuk menempatkan 30.000 hingga 50.000 warga Korea Utara di wilayah Rusia,” ujar Zelensky.

Namun, angka tersebut merupakan klaim dari pemerintah Ukraina dan belum dapat diperlakukan sebagai angka independen yang telah terverifikasi.

Laporan terbaru sejumlah media internasional juga mengutip pernyataan Zelensky mengenai potensi pengerahan hingga 50 ribu personel Korea Utara ke Rusia.

Zelensky tidak hanya mempermasalahkan jumlah personel Korea Utara.

Menurutnya, kerja sama militer antara Pyongyang dan Moskow juga memberikan kesempatan bagi Korea Utara untuk mempelajari pengalaman peperangan modern secara langsung.

Ia menilai hubungan tersebut berpotensi membuat kemampuan militer Korea Utara berkembang melalui pengalaman yang diperoleh dari konflik Rusia-Ukraina.

“Korea Utara akan terus membangun pengalamannya dalam peperangan modern, menerima lisensi dari Rusia, dan menerima segala macam peralatan militer dari mereka,” kata Zelensky.

Bagi Kyiv, perkembangan tersebut bukan sekadar persoalan hubungan bilateral Rusia dan Korea Utara.

Ukraina melihat adanya potensi dampak jangka panjang terhadap keseimbangan militer di kawasan Asia-Pasifik.

Pasalnya, personel Korea Utara yang memperoleh pengalaman menghadapi peperangan modern dapat kembali membawa pengetahuan tersebut ke negaranya.

Dengan kata lain, perang di Eropa berpotensi menjadi ruang pembelajaran militer bagi negara yang memiliki kepentingan strategis besar di Asia Timur.

Zelensky juga kembali menyoroti penggunaan persenjataan Korea Utara dalam konflik.

Menurutnya, rudal buatan Korea Utara telah ditemukan di wilayah Ukraina.

Pernyataan itu digunakan Zelensky untuk menggambarkan bahwa hubungan pertahanan Pyongyang dan Moskow tidak hanya berlangsung dalam bentuk dukungan personel.

Ia menilai kerja sama tersebut telah berkembang ke transfer persenjataan dan kemampuan militer.

Bagi Ukraina, kombinasi antara pengalaman tempur, personel dan teknologi persenjataan menjadi faktor yang perlu diwaspadai.

Dalam pernyataan sebelumnya, Zelensky mengatakan persiapan untuk menerima personel Korea Utara telah dilakukan sejak Juni di wilayah Rusia bagian barat.

Klaim tersebut memperkuat kekhawatiran Kyiv bahwa pengerahan pasukan bukan langkah spontan, melainkan bagian dari persiapan yang telah dilakukan secara bertahap.

Jika jumlah yang disebut Zelensky benar-benar terealisasi, skala keterlibatan personel Korea Utara di Rusia akan menjadi salah satu perkembangan signifikan dalam hubungan militer kedua negara.

Sebelumnya, keterlibatan pasukan Korea Utara dalam konflik Rusia-Ukraina memang telah menjadi isu internasional. Namun, besaran pengerahan terbaru yang disebut Zelensky masih harus dilihat melalui verifikasi independen.

Di tengah perkembangan tersebut, Zelensky secara khusus mengarahkan pesannya kepada Korea Selatan.

Ia meminta Seoul mempererat kerja sama dengan Ukraina sebagai respons terhadap meningkatnya hubungan militer Pyongyang dan Moskow.

Dukungan yang diminta antara lain berupa sistem pertahanan udara dan drone.

Menurut Zelensky, Korea Selatan memiliki pengalaman dan kemampuan teknologi yang dapat membantu Ukraina menghadapi ancaman udara sekaligus memperkuat pertahanan di medan perang.

Permintaan tersebut sekaligus memperlihatkan bagaimana konflik Rusia-Ukraina semakin terhubung dengan dinamika keamanan Asia Timur.

Hubungan Rusia dan Korea Utara tidak hanya dipandang dari perspektif Eropa, tetapi juga mulai dihitung sebagai bagian dari perubahan keseimbangan kekuatan di Asia.

Kekhawatiran utama Kyiv bukan hanya kemungkinan bertambahnya jumlah pasukan yang membantu Rusia.

Zelensky melihat persoalan yang lebih panjang: transfer pengalaman perang modern dari Rusia kepada Korea Utara.

Jika personel Korea Utara mendapatkan pengalaman mengenai drone, peperangan elektronik, rudal, taktik medan tempur dan berbagai teknologi perang modern, pengalaman tersebut berpotensi menjadi modal bagi pengembangan kemampuan militer Pyongyang.

Ukraina karena itu berupaya menarik perhatian negara-negara Asia, khususnya Korea Selatan, agar tidak memandang perkembangan tersebut semata-mata sebagai konflik yang jauh di Eropa.

Bagi Seoul, setiap peningkatan kemampuan militer Korea Utara memiliki konsekuensi langsung terhadap keamanan Semenanjung Korea.

Sementara bagi Rusia, dukungan personel dan persenjataan dari Pyongyang berpotensi menjadi tambahan sumber daya dalam menghadapi perang berkepanjangan.

Dengan demikian, klaim Zelensky mengenai 30 ribu hingga 50 ribu personel Korea Utara bukan sekadar soal angka.

Jika terealisasi, pengerahan tersebut dapat menjadi indikator semakin dalamnya hubungan militer Rusia-Korea Utara sekaligus memperluas dampak geopolitik perang Ukraina hingga ke Asia Timur.

Kini perhatian tertuju pada satu pertanyaan: apakah angka yang disebut Zelensky akan benar-benar terwujud di lapangan, dan bagaimana respons Rusia, Korea Utara maupun Korea Selatan terhadap perkembangan tersebut.

Komentar