JurnalPatroliNews | Internasional — Hubungan Amerika Serikat dan Meksiko kembali memanas. Kali ini, sorotan tertuju pada keputusan pemerintahan Presiden AS Donald Trump mencabut visa Andrés Manuel López Beltrán, putra mantan Presiden Meksiko Andrés Manuel López Obrador.
López Beltrán mengecam keputusan tersebut dan menilai pencabutan visa untuk memasuki Amerika Serikat sarat kepentingan politik. Ia bahkan mempertanyakan dasar keputusan yang membuat dirinya tidak lagi dapat masuk ke wilayah AS.
Kecaman itu disampaikan López Beltrán melalui surat terbuka yang ditujukan kepada Trump dan diunggah melalui akun Instagram pribadinya pada Jumat (14/8/2026) waktu setempat.
Dalam surat tersebut, López Beltrán menyebut Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dan Wakil Menteri Luar Negeri Christopher Landau sebagai pejabat yang memerintahkan pencabutan izin masuknya ke Amerika Serikat.
“Saya menulis surat ini kepada Anda (Trump) dengan hormat dan penghargaan pribadi terhadap jabatan Anda untuk memberi tahu bahwa Menteri Luar Negeri Marco Rubio dan Wakil Menteri Luar Negeri Christopher Landau telah memerintahkan agar izin saya untuk memasuki AS dicabut,” tulis López Beltrán.
Ia mempertanyakan alasan di balik keputusan tersebut. Menurut López Beltrán, tidak ada dasar yang jelas untuk mencabut visanya.
Putra López Obrador itu bahkan menilai keputusan Washington memiliki karakter politik dan propaganda. Ia juga menegaskan tidak pernah diberi bukti mengenai dugaan tindakan kriminal maupun pelanggaran moral yang dapat menjadi dasar pencabutan visa.
“Seperti yang terlihat jelas, keputusan ini bersifat politis atau lebih tepatnya, politis picik dan propagandistik ala Hitler, karena tidak ada alasan untuk membenarkan perilaku arogan tersebut. Perlu ditekankan, para pejabat ini tak memiliki bukti terhadap saya mengenai tindakan tidak bermoral atau kriminal apa pun,” kecamnya.
Pencabutan visa López Beltrán muncul ketika hubungan Washington dan Mexico City berada dalam situasi sensitif.
López Beltrán bukan hanya putra mantan Presiden López Obrador. Ia juga dikenal sebagai salah satu figur politik dalam lingkaran Morena, partai yang saat ini berkuasa di Meksiko.
Sebelumnya, López Beltrán pernah menjabat sebagai sekretaris organisasi Morena sebelum mengundurkan diri untuk mencalonkan diri sebagai anggota majelis rendah Kongres Meksiko.
Keputusan Washington terhadap dirinya kemudian mendapat perhatian dari Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum. Ia menilai pencabutan visa tersebut memiliki dimensi politik.
“Menurut pendapat saya, pembatalan visa yang telah mereka lakukan pada dasarnya memiliki tujuan politis, karena tidak diterapkan secara adil kepada semua negara jika alasannya terkait dengan aktivitas kriminal,” kata Sheinbaum dalam konferensi pers.
Pernyataan tersebut menambah dimensi baru dalam hubungan diplomatik kedua negara yang memang telah menghadapi sejumlah persoalan sejak Trump kembali menduduki kursi kepresidenan AS untuk periode keduanya.
Di bawah pemerintahan Trump, Washington meningkatkan tekanan terhadap Mexico City dalam berbagai isu, termasuk perdagangan, keamanan perbatasan, narkotika, dan migrasi.
Ketegangan tersebut bahkan berkembang menjadi ancaman kebijakan perdagangan yang lebih keras serta munculnya pembicaraan mengenai kemungkinan tindakan militer terhadap sasaran tertentu di wilayah Meksiko.
Dalam situasi tersebut, pencabutan visa terhadap salah satu figur politik yang memiliki hubungan dekat dengan partai penguasa Meksiko berpotensi kembali memanaskan hubungan kedua negara.
Bagi López Beltrán, keputusan tersebut bukan sekadar persoalan administratif perjalanan. Ia melihatnya sebagai tindakan politik yang menurutnya tidak disertai dasar yang dapat dipertanggungjawabkan.
Sementara bagi Washington, keputusan pencabutan visa terhadap seseorang dapat menjadi bagian dari kebijakan imigrasi dan keamanan nasional. Namun, hingga kini, dasar spesifik pencabutan visa López Beltrán yang disebutkan secara terbuka belum dijelaskan secara rinci oleh pemerintah AS.
Persoalan tersebut kini menjadi sorotan baru dalam hubungan AS-Meksiko yang tengah menghadapi berbagai kepentingan politik, keamanan, dan ekonomi yang saling beririsan.











Komentar