Prabowo 32,4%, Dedi 20,6%, Anies 20,5%: Siapa Paling Berpeluang Mengejar?

JurnalPatroliNews | Jakarta — Prabowo Subianto masih berada di posisi teratas dalam simulasi elektabilitas calon presiden berdasarkan survei terbaru lembaga Media Survei Nasional (Median). Di bawahnya, persaingan Dedi Mulyadi dan Anies Baswedan terlihat semakin ketat dengan perolehan elektabilitas yang nyaris berimbang.

Dalam simulasi pertanyaan terbuka, Prabowo memperoleh elektabilitas 32,2 persen. Dedi Mulyadi berada di posisi kedua dengan 19,8 persen, sedangkan Anies Baswedan menyusul dengan 19,5 persen.

Direktur Eksekutif Median Rico Marbun mengatakan, hasil tersebut merupakan gambaran pilihan responden ketika diberikan kesempatan menyebutkan nama calon tanpa daftar yang disediakan.

“Dalam pertanyaan terbuka, Prabowo Subianto memperoleh 32,2 persen, kemudian Dedi Mulyadi 19,8 persen dan Anies Baswedan 19,5 persen,” kata Rico dalam keterangan tertulis, Selasa (1/9/2026).

Selisih elektabilitas Dedi dan Anies dalam simulasi terbuka hanya 0,3 poin persentase. Angka tersebut menunjukkan persaingan yang relatif berimbang dan belum dapat dipahami sebagai keunggulan statistik salah satu tokoh, mengingat margin of error survei mencapai ±2,76 persen.

Setelah tiga nama tersebut, Ganjar Pranowo memperoleh 4,5 persen, Sherly Tjoanda 3,5 persen, Agus Harimurti Yudhoyono 2,3 persen, Joko Widodo 2,0 persen, Gibran Rakabuming Raka 2,0 persen, Mahfud MD 1,8 persen, dan Purbaya Yudhi Sadewa 1,3 persen.

Semi Terbuka, Jarak Dedi dan Anies Makin Tipis

Pola serupa terlihat dalam simulasi semi terbuka. Prabowo kembali menempati posisi pertama dengan elektabilitas 32,4 persen.

Dedi Mulyadi berada di posisi kedua dengan 20,6 persen, sementara Anies Baswedan berada di posisi ketiga dengan 20,5 persen.

“Dalam pertanyaan semi terbuka, Prabowo Subianto memperoleh 32,4 persen. Dedi Mulyadi berada di posisi kedua dengan 20,6 persen dan Anies Baswedan di posisi ketiga dengan 20,5 persen,” ujar Rico.

Selisih Dedi dan Anies dalam simulasi ini bahkan hanya 0,1 poin persentase. Dengan margin of error ±2,76 persen, perbedaan tersebut lebih tepat dibaca sebagai posisi yang nyaris berimbang, bukan sebagai bukti bahwa salah satu tokoh memiliki keunggulan statistik yang signifikan.

Di bawah tiga nama teratas, Ganjar Pranowo memperoleh 5,0 persen, Sherly Tjoanda 4,1 persen, Gibran Rakabuming Raka 2,6 persen, Mahfud MD 2,1 persen, Agus Harimurti Yudhoyono 2,0 persen, Andika Perkasa 1,5 persen, serta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok 1,2 persen.

Gibran Masih Berada di Bawah Tiga Besar

Hasil survei juga memperlihatkan elektabilitas Gibran Rakabuming Raka yang masih berada di bawah tiga nama teratas.

Dalam simulasi terbuka, Gibran memperoleh 2,0 persen. Angka tersebut meningkat menjadi 2,6 persen dalam simulasi semi terbuka.

Posisi tersebut menunjukkan bahwa dalam pengukuran Median pada periode survei, elektabilitas Gibran masih terpaut cukup jauh dari Prabowo, Dedi Mulyadi, dan Anies Baswedan.

Survei Digelar 21 Juli–2 Agustus 2026

Survei Median dilakukan melalui wawancara tatap muka (face-to-face interview) pada 21 Juli hingga 2 Agustus 2026.

Populasi survei mencakup seluruh warga negara Indonesia yang memiliki hak pilih. Target sampel mencapai 1.212 responden, dengan margin of error (MoE) ±2,76 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Sampel dipilih secara acak menggunakan metode multistage random sampling. Distribusi sampel dilakukan secara proporsional berdasarkan populasi provinsi dan gender.

Untuk memastikan kualitas data, Median melakukan quality control terhadap 20 persen sampel yang ada.

Median menyatakan hasil survei tersebut menggambarkan dinamika politik selama periode pengambilan data, yakni 21 Juli hingga 2 Agustus 2026.

Karena itu, angka elektabilitas dalam survei tersebut lebih tepat dipandang sebagai potret preferensi politik responden pada saat survei dilakukan, bukan sebagai prediksi hasil Pemilu 2029.

Temuan ini sekaligus memperlihatkan dua hal. Prabowo masih menjadi nama dengan elektabilitas tertinggi dalam survei tersebut, sementara perebutan posisi berikutnya antara Dedi Mulyadi dan Anies Baswedan berlangsung sangat ketat.

Namun, karena jarak elektabilitas Dedi dan Anies berada jauh di bawah margin of error, peta persaingan keduanya masih terbuka dan sangat mungkin berubah mengikuti perkembangan politik hingga Pemilu 2029.

Komentar