JurnalPatroliNews | Washington — Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melancarkan tekanan terhadap Federal Reserve (The Fed). Kali ini, Trump mengancam akan menghentikan perdagangan dengan sejumlah negara yang mengalami surplus terhadap Amerika Serikat apabila bank sentral tersebut tidak menurunkan suku bunga.
Ancaman itu disampaikan Trump melalui platform Truth Social dan kembali memperlihatkan benturan antara agenda ekonomi Gedung Putih dengan arah kebijakan moneter The Fed.
“Turunkan suku bunga atau saya akan berhenti berdagang dengan negara-negara yang mengalami defisit dengan kita,” tulis Trump, dikutip Minggu (6/9/2026).
Trump menilai ancaman menghentikan perdagangan justru lebih baik dibandingkan mengenakan tarif terhadap negara-negara yang memiliki surplus perdagangan dengan Amerika Serikat.
“Ini lebih baik daripada tarif! Dewan Fed, dengan pemimpin barunya yang hebat, harus lebih cerdas—jadilah patriot untuk perubahan,” tegasnya.
Desakan Trump muncul di tengah perdebatan sengit mengenai arah suku bunga Amerika Serikat.
Laporan ketenagakerjaan Agustus menunjukkan perekonomian AS masih memiliki daya tahan. Data resmi Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) mencatat lapangan kerja nonpertanian bertambah 162.000 posisi pada Agustus, sementara tingkat pengangguran tetap 4,1 persen.
Angka tersebut lebih kuat dibandingkan sejumlah perkiraan sebelumnya dan justru meningkatkan spekulasi bahwa The Fed dapat mempertimbangkan kebijakan yang lebih ketat.
Reuters melaporkan probabilitas kenaikan suku bunga pada pertemuan 15-16 September 2026 sempat meningkat setelah laporan ketenagakerjaan tersebut.
Dengan kondisi tersebut, keinginan Trump agar suku bunga segera dipangkas berhadapan langsung dengan pertimbangan The Fed mengenai inflasi dan kekuatan ekonomi.
Trump selama ini konsisten menginginkan suku bunga Amerika Serikat berada serendah mungkin.
Menurutnya, bunga yang tinggi meningkatkan biaya pembiayaan pemerintah dan membuat perusahaan serta konsumen menanggung beban pinjaman lebih besar.
Kali ini Trump bahkan menghubungkan kebijakan moneter dengan kebijakan perdagangan.
Ia menyebut penghentian perdagangan dengan negara-negara yang mengalami surplus terhadap Amerika Serikat sebagai pilihan yang lebih baik dibandingkan penerapan tarif.
Pernyataan tersebut memperluas tekanan Trump dari persoalan suku bunga menjadi ancaman terhadap hubungan dagang internasional.
Amerika Serikat memang mengalami defisit perdagangan yang besar dengan sejumlah mitra dagangnya.
China selama bertahun-tahun menjadi salah satu negara dengan surplus perdagangan terbesar terhadap AS, disusul sejumlah mitra lain seperti Meksiko dan Vietnam.
Namun, penggunaan hubungan dagang sebagai respons terhadap kebijakan suku bunga merupakan gagasan yang jauh lebih luas daripada instrumen moneter biasa.
Jika diterapkan, kebijakan tersebut dapat memengaruhi rantai pasok, harga barang, investasi dan hubungan perdagangan Amerika Serikat dengan mitra-mitranya.
Pasar global pun harus memperhitungkan dua risiko sekaligus: arah suku bunga The Fed dan kemungkinan perubahan kebijakan perdagangan Washington.
Trump menyebut telah berbicara langsung dengan Ketua The Fed Kevin Warsh.
“Aku berbicara dengannya, ya,” kata Trump kepada wartawan di Oval Office.
Warsh kini berada di tengah tekanan politik sekaligus tuntutan untuk menjaga kredibilitas kebijakan moneter.
Reuters sebelumnya melaporkan Warsh memberi sinyal bahwa kenaikan suku bunga masih dapat dipertimbangkan apabila inflasi tidak bergerak cukup cepat menuju target 2 persen.
Posisi tersebut membuat Warsh berada dalam situasi sulit: mempertahankan pendekatan berbasis data ekonomi sekaligus menghadapi presiden yang secara terbuka menuntut pemangkasan bunga.
Laporan BLS menunjukkan tambahan 162.000 pekerjaan pada Agustus jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata kenaikan bulanan 31.000 selama 12 bulan sebelumnya. Tingkat pengangguran tidak berubah pada 4,1 persen.
Kondisi tersebut dapat dibaca sebagai sinyal bahwa pasar tenaga kerja AS belum menunjukkan pelemahan yang cukup untuk secara otomatis mendorong pemangkasan suku bunga.
Reuters mencatat data tersebut justru membuat peluang kenaikan suku bunga kembali diperhitungkan investor.
Di tengah situasi itu, keputusan The Fed akan sangat bergantung pada data inflasi yang akan dirilis sebelum pertemuan kebijakan September.
Persoalan utama yang tidak dapat diabaikan The Fed adalah inflasi.
Reuters melaporkan inflasi pilihan The Fed masih berada di atas target 2 persen. Kondisi tersebut membuat kebijakan moneter tidak bisa hanya diarahkan untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi.
Karena itu, keputusan menurunkan suku bunga terlalu cepat dapat membawa risiko baru apabila tekanan harga kembali meningkat.
Sebaliknya, mempertahankan atau menaikkan suku bunga dapat memperlambat pertumbuhan dan meningkatkan biaya pembiayaan.
Trump melihat bunga rendah sebagai instrumen untuk mendorong aktivitas ekonomi, investasi dan mengurangi beban utang.
The Fed harus melihat persoalan yang lebih luas, termasuk inflasi, pasar tenaga kerja dan stabilitas ekonomi.
Perbedaan tersebut membuat kebijakan moneter menjadi salah satu titik sensitif dalam hubungan antara presiden dan bank sentral.
Tekanan politik terhadap The Fed juga menjadi perhatian investor karena persepsi bahwa keputusan moneter terlalu dipengaruhi Gedung Putih dapat memengaruhi kredibilitas bank sentral.
Ancaman Trump untuk menghentikan perdagangan dengan negara-negara tertentu berpotensi menciptakan konsekuensi yang lebih besar daripada sekadar perang tarif.
Amerika Serikat merupakan salah satu pusat utama perdagangan dan keuangan global. Perubahan drastis terhadap hubungan dagang dengan negara-negara surplus dapat memengaruhi harga komoditas, jalur pasokan dan keputusan investasi.
Reuters menilai ancaman terbaru Trump menjadi bagian dari tekanan yang semakin terbuka terhadap The Fed agar menurunkan suku bunga.
Bagi negara lain, termasuk Indonesia, perkembangan tersebut penting karena perubahan kebijakan AS dapat berimbas pada dolar, arus modal, perdagangan dan pasar keuangan global.
Rapat kebijakan The Fed pada 15-16 September 2026 menjadi salah satu agenda yang paling ditunggu pasar.
Sebelum keputusan tersebut diambil, investor akan mencermati sejumlah indikator baru, terutama inflasi dan perkembangan pasar tenaga kerja.
Sementara itu, Trump telah lebih dahulu menyampaikan tuntutannya: bunga harus turun.
Warsh dan para pejabat The Fed harus menimbang data ekonomi, bukan hanya tekanan politik.
Perselisihan mengenai suku bunga kini memasuki babak baru.
Trump tidak lagi hanya mengkritik kebijakan The Fed, tetapi mengaitkan keputusan moneter dengan kemungkinan penghentian perdagangan dengan negara-negara yang mengalami surplus terhadap Amerika Serikat.
Di sisi lain, data ekonomi terbaru justru memberikan alasan bagi sebagian pelaku pasar untuk memperhitungkan kemungkinan suku bunga tetap tinggi atau bahkan naik.
The Fed sendiri belum memberikan komentar atas unggahan Trump.
Karena itu, perhatian dunia kini tertuju pada satu pertanyaan: apakah The Fed akan mengikuti tekanan politik untuk memangkas bunga, atau tetap berdiri pada keputusan berbasis data ekonomi?
Jawabannya akan menentukan bukan hanya arah ekonomi Amerika Serikat, tetapi juga dapat memengaruhi nilai dolar, pasar obligasi, arus modal dan perdagangan global.













Komentar