JurnalPatroliNews | Internasional — Bahrain menolak menghadiri pertemuan tingkat menteri yang diusulkan untuk membahas situasi di Selat Hormuz. Manama juga menegaskan tidak akan mengikuti forum multilateral yang melibatkan Iran sebelum hubungan diplomatik kedua negara dipulihkan.
Penolakan tersebut disampaikan Kementerian Luar Negeri Bahrain melalui pernyataan resmi pada Sabtu (12/9/2026), merespons informasi mengenai rencana pertemuan yang dijadwalkan berlangsung di Muscat, Oman, Senin (14/9/2026).
“Mengingat apa yang telah beredar di media dan platform media sosial mengenai pertemuan tingkat menteri yang diusulkan mengenai situasi di Selat Hormuz, Kementerian Luar Negeri Bahrain mengklarifikasi bahwa Kerajaan Bahrain tidak akan berpartisipasi di dalamnya,” demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Bahrain.
Bahrain Tolak Forum yang Melibatkan Iran
Bahrain tidak hanya menolak keikutsertaan dalam pertemuan tersebut, tetapi juga menetapkan sikap lebih luas terkait forum diplomatik yang melibatkan Iran.
“Kerajaan Bahrain tidak akan berpartisipasi di dalamnya tidak akan menjadi pihak dalam pertemuan kolektif apa pun yang melibatkan Iran sebelum hubungan diplomatik antara kedua negara dipulihkan,” lanjut pernyataan tersebut, seperti dikutip Anadolu, Minggu (13/9/2026).
Menurut pemerintah Bahrain, keputusan tersebut telah disampaikan kepada Oman melalui jalur resmi.
Manama tetap menyatakan penghargaan terhadap upaya Oman dalam mendorong dialog dan penyelesaian perselisihan secara diplomatik.
“Posisi ini sebelumnya telah dikomunikasikan kepada saudara-saudara kita di Kesultanan Oman melalui saluran resmi, dan tidak mengurangi apresiasi kerajaan atas upaya tulus mereka atau komitmennya terhadap dialog sebagai sarana untuk menyelesaikan perselisihan,” tegas Bahrain.
Serangan Terbaru Jadi Sorotan
Dalam pernyataannya, Bahrain juga menyinggung serangan yang baru-baru ini menargetkan wilayah negaranya serta pipa minyak Timur-Barat milik Arab Saudi.
Bahrain menilai perkembangan tersebut merupakan fakta yang tidak dapat diabaikan dalam pembahasan mengenai keamanan kawasan dan jalur pelayaran.
Sikap tersebut menunjukkan bahwa persoalan keamanan regional masih menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi kesiapan Bahrain untuk terlibat dalam forum yang mempertemukan negara-negara Arab dengan Iran.
Di tengah meningkatnya perhatian terhadap situasi Selat Hormuz, Bahrain menilai setiap pembahasan mengenai jalur pelayaran strategis tersebut harus mempertimbangkan keamanan dan hak seluruh negara.
Bahrain Minta Selat Hormuz Terbuka
Selain menyampaikan penolakan terhadap pertemuan, Bahrain juga menegaskan prinsip yang menurutnya harus menjadi dasar setiap pengaturan mengenai Selat Hormuz.
Menurut Manama, setiap kesepakatan atau pengaturan terkait jalur strategis tersebut harus menjamin hak seluruh kapal untuk melintas tanpa diskriminasi.
Bahrain juga menolak adanya pembebanan biaya maupun kewajiban memperoleh izin bagi kapal yang ingin melewati Selat Hormuz.
Posisi tersebut menempatkan kebebasan navigasi sebagai salah satu isu utama dalam setiap pembahasan mengenai masa depan jalur pelayaran tersebut.
Iran Sebelumnya Ungkap Rencana Pertemuan
Sebelumnya, Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan pada Sabtu (12/9/2026) pagi bahwa para menteri luar negeri dari sejumlah negara Arab akan bertemu di Muscat, Oman.
Pertemuan tersebut dijadwalkan berlangsung Senin (14/9/2026) untuk membahas situasi Selat Hormuz sekaligus rencana kesepakatan mengenai jalur pelayaran bersama antara Iran dan Oman melalui selat tersebut.
Namun, penolakan Bahrain membuat format pertemuan yang direncanakan kini menghadapi tantangan diplomatik.
Selat Hormuz Jadi Jalur Strategis
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran strategis yang menghubungkan kawasan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab.
Karena memiliki posisi penting bagi lalu lintas perdagangan dan energi internasional, perkembangan keamanan di kawasan tersebut berpotensi memberikan dampak lebih luas terhadap negara-negara di luar Timur Tengah.
Penolakan Bahrain untuk duduk bersama Iran menunjukkan bahwa persoalan hubungan diplomatik dan keamanan regional masih menjadi hambatan dalam membangun mekanisme bersama mengenai Selat Hormuz.
Di sisi lain, upaya Oman untuk menjadi ruang dialog menunjukkan masih adanya jalur diplomasi yang dapat digunakan untuk mencari kesepakatan mengenai keamanan serta kelancaran pelayaran di kawasan tersebut.












Komentar