JurnalPatroliNews | New Delhi — Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan negaranya tidak sedang berperang dengan Arab Saudi. Ia juga menyatakan Teheran tidak memiliki persoalan dengan Riyadh maupun negara-negara tetangga lainnya.
Pernyataan tersebut disampaikan Pezeshkian di tengah meningkatnya ketegangan keamanan di kawasan Timur Tengah, khususnya terkait konflik antara pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi dan kelompok Houthi.
“We are not at war with Saudi Arabia,” tegas Pezeshkian, dikutip dari India Today, Minggu (13/9/2026).
Pezeshkian mengatakan Iran justru menginginkan hubungan yang tulus dengan seluruh negara di kawasan. Menurutnya, negara-negara Timur Tengah seharusnya dapat membangun hubungan berdasarkan kerja sama, bukan terus terjebak dalam konflik.
Pezeshkian Bantah Keterkaitan Iran dengan Serangan Houthi
Dalam pernyataannya, Pezeshkian juga menepis adanya keterkaitan langsung Teheran dengan serangan yang dilakukan kelompok Houthi.
Ia mengatakan kelompok tersebut memiliki persoalan dan kepentingannya sendiri. Berbagai kelompok di kawasan, menurut Pezeshkian, juga mengambil tindakan sebagai respons terhadap serangan yang mereka alami.
Pernyataan itu muncul ketika ketegangan antara pemerintah Yaman yang mendapat dukungan Riyadh dan kelompok Houthi masih berlangsung.
Serangan Houthi ke wilayah Arab Saudi beberapa hari sebelumnya dilaporkan menyebabkan lebih dari 70 orang terluka.
Di tengah situasi tersebut, Pezeshkian berupaya menegaskan posisi Iran bahwa hubungan dengan Arab Saudi tidak harus ditempatkan dalam kerangka permusuhan.
Iran Usulkan Kerangka Keamanan Regional
Lebih jauh, Pezeshkian menawarkan gagasan agar Iran, Arab Saudi, Turki, Pakistan, serta negara-negara lain di kawasan duduk bersama untuk membentuk kerangka perdamaian dan keamanan regional.
Menurutnya, negara-negara Timur Tengah memiliki kepentingan bersama untuk menciptakan kawasan yang lebih stabil.
“Tidak ada alasan bagi wilayah ini untuk berada dalam konflik,” kata Pezeshkian.
Ia bahkan membandingkan kondisi tersebut dengan negara-negara Eropa yang pernah mengalami sejarah konflik panjang, tetapi kemudian membangun mekanisme kerja sama untuk menciptakan stabilitas dan hubungan yang lebih erat.
Pezeshkian menilai pengalaman tersebut dapat menjadi salah satu contoh bahwa negara-negara yang memiliki perbedaan kepentingan tetap dapat membangun mekanisme keamanan bersama.
Identitas Negara Tetap Bisa Dipertahankan
Dalam gagasannya, kerja sama regional bukan berarti setiap negara harus kehilangan identitas maupun kepentingan nasionalnya.
Pezeshkian menilai masing-masing negara tetap dapat mempertahankan identitas dan kepentingannya, sembari membangun kesepahaman mengenai keamanan bersama.
Kerja sama tersebut, menurutnya, juga perlu diperluas melalui hubungan perdagangan dan ekonomi.
Dengan meningkatnya interaksi ekonomi, negara-negara kawasan diharapkan memiliki kepentingan bersama yang lebih kuat untuk menjaga stabilitas dan menghindari konflik berkepanjangan.
Iran Sebut Negara Kawasan sebagai Saudara
Pezeshkian juga menegaskan Iran tidak memiliki persoalan dengan Uni Emirat Arab (UEA).
Ia menggambarkan negara-negara kawasan sebagai saudara yang selama ini memiliki hubungan perdagangan maupun sosial dengan Teheran.
Pernyataan tersebut menjadi bagian dari upaya Iran memperkuat pesan diplomatik bahwa Teheran menginginkan hubungan yang lebih konstruktif dengan negara-negara tetangga.
Di tengah dinamika politik dan keamanan Timur Tengah yang kompleks, Iran berupaya mendorong pendekatan berbasis dialog dan kerja sama regional.
Bertemu Putra Mahkota Abu Dhabi
Upaya membangun komunikasi dengan negara kawasan juga terlihat dalam agenda Pezeshkian di sela-sela KTT BRICS India.
Pada Sabtu (12/9/2026), Pezeshkian bertemu dengan Putra Mahkota Abu Dhabi Sheikh Khaled bin Mohamed bin Zayed Al Nahyan.
Pertemuan tersebut berlangsung di sela rangkaian KTT BRICS di India, ketika Pezeshkian menyampaikan gagasannya mengenai pentingnya hubungan yang lebih erat antarnegara kawasan.
Pesan yang disampaikan Presiden Iran tersebut menunjukkan bahwa Teheran ingin membuka ruang lebih luas bagi dialog regional, termasuk dengan Arab Saudi dan negara-negara Timur Tengah lainnya.
Bagi Pezeshkian, stabilitas kawasan tidak hanya dapat dibangun melalui pendekatan keamanan, tetapi juga melalui perdagangan, hubungan ekonomi, serta mekanisme kerja sama yang memungkinkan negara-negara dengan kepentingan berbeda tetap hidup berdampingan.













Komentar