Partai Putin Unggul 57,5 Persen, Mayoritas Duma Rusia Diproyeksikan Tetap Bertahan

JurnalPatroliNews | Moskow — Partai United Russia yang berkuasa di Rusia berada di jalur untuk mempertahankan dominasi di Duma Negara setelah pemilu parlemen tiga hari yang berakhir pada Minggu (20/9/2026).

Berdasarkan penghitungan sementara yang dilaporkan pada Senin (21/9), United Russia memperoleh 57,5 persen suara dari lebih 71 persen suara yang telah dihitung.

Partai Komunis berada di posisi berikutnya dengan sekitar 14 persen, sedangkan Partai Liberal Demokrat Rusia (LDPR) memperoleh sekitar 8,7 persen. Angka tersebut masih merupakan hasil sementara dan belum menjadi hasil final pemilu.

TASS memproyeksikan United Russia tetap menguasai sedikitnya dua pertiga dari total 450 kursi Duma Negara. Dengan ambang dua pertiga, sebuah kelompok politik memiliki jumlah kursi yang diperlukan untuk mengusulkan perubahan konstitusi sesuai ketentuan yang berlaku.

Pada pemilu parlemen 2021, United Russia memperoleh 324 kursi di Duma.

Hasil Akhir Masih Menunggu Penghitungan

Komisi Pemilihan Umum Pusat Rusia masih melakukan proses penghitungan dan verifikasi hasil pemungutan suara.

Karena itu, angka 57,5 persen belum dapat diperlakukan sebagai hasil final. Perolehan kursi juga tidak semata-mata ditentukan oleh suara daftar partai karena sistem pemilu Duma menggabungkan pemilihan melalui daftar partai dan distrik beranggota tunggal.

Dengan hasil sementara tersebut, United Russia diproyeksikan mempertahankan posisi dominan di parlemen Rusia.

Pemilu Pertama Sejak Invasi Skala Penuh ke Ukraina

Pemilu 2026 menjadi pemilihan parlemen pertama Rusia sejak Moskow melancarkan invasi skala penuh ke Ukraina pada Februari 2022.

Presiden Vladimir Putin tidak menjadi peserta pemilu karena masih menjabat sebagai kepala negara. Namun, menjelang pemungutan suara, Putin secara terbuka mengaitkan pemilu dengan dukungan masyarakat terhadap pasukan Rusia.

Dalam pidato yang disiarkan televisi, Putin mengatakan pilihan pemilih akan menunjukkan dukungan terhadap para tentara Rusia dan persatuan masyarakat.

“Pilihan dan kehendak Anda akan sekali lagi menunjukkan bahwa jutaan orang mendukung para pejuang kita, bahwa kita berdiri bersama, dipersatukan oleh nilai-nilai bersama, ingatan sejarah kita, dan cinta kepada Tanah Air kita,” kata Putin.

Putin juga menyebut hasil pemilu sebagai bagian dari respons masyarakat Rusia terhadap pihak-pihak yang menurutnya berupaya melemahkan negara tersebut.

Yabloko Tak Masuk Daftar Federal

Kontestasi pemilu berlangsung dengan keterbatasan bagi kelompok politik yang secara terbuka menentang perang di Ukraina.

Partai liberal Yabloko, yang menentang perang, tidak dapat mengikuti pemilu melalui daftar federal setelah Mahkamah Agung Rusia pada Agustus membatalkan pendaftaran daftar calon partai tersebut. Putusan itu kemudian dipertahankan dalam proses banding.

Yabloko kemudian mengajukan upaya hukum lanjutan dan pada September membawa persoalan tersebut ke Mahkamah Konstitusi Rusia.

Partai itu juga melaporkan sejumlah persoalan selama pemungutan suara. Salah satu pengawas Yabloko di St. Petersburg dilaporkan kehilangan kesadaran ketika diamankan polisi. Klaim tersebut disampaikan oleh pihak Yabloko dan diberitakan sejumlah media, sehingga status faktual rinci mengenai insiden tersebut tetap perlu dibedakan dari klaim partai.

Hari Terakhir Pemilu Dibayangi Serangan Drone

Hari terakhir pemungutan suara juga berlangsung di tengah serangan drone besar-besaran ke Moskow dan sejumlah wilayah Rusia.

Wali Kota Moskow Sergei Sobyanin mengatakan sekitar 1.600 drone terlibat dalam serangan tersebut, dengan sekitar 450 drone diarahkan ke ibu kota.

Serangan itu merusak sebuah bangunan permukiman dan fasilitas industri minyak. Laporan awal menyebut korban jiwa dan puluhan orang terluka, sementara jumlah korban berubah dalam sejumlah pembaruan selama proses evakuasi dan penanganan medis.

Pemerintah Rusia menuduh Ukraina berusaha mengganggu proses pemilu. Moskow kemudian menyatakan akan meningkatkan serangan terhadap sasaran militer di Kyiv sebagai respons.

Ukraina tidak memberikan pengakuan penuh terhadap seluruh klaim Rusia mengenai serangan tersebut, sementara Presiden Volodymyr Zelenskyy menyatakan operasi jarak jauh Ukraina memberikan dampak signifikan di wilayah Moskow.

Lebih dari 1.000 Gelombang DDoS

Selain serangan fisik, infrastruktur pemilu Rusia juga menghadapi serangkaian serangan siber.

Ketua Komisi Pemilihan Umum Pusat Rusia Ella Pamfilova mengatakan telah terdeteksi lebih dari 1.000 gelombang serangan DDoS terhadap infrastruktur yang digunakan dalam proses pemilu.

Dari jumlah tersebut, lebih dari 120 serangan dilaporkan menyasar sistem pemungutan suara elektronik jarak jauh. Pamfilova mengatakan serangan tersebut tidak berhasil mengganggu pelaksanaan pemilu.

Pamfilova tidak secara independen menetapkan siapa pelaku serangan tersebut. Ia menyebut serangan dilakukan oleh kelompok yang dinilai profesional dan terkoordinasi serta menggunakan sejumlah perangkat berbasis kecerdasan buatan.

Mayoritas Duma Masih Menunggu Hasil Final

Dengan lebih dari separuh suara yang telah dihitung, United Russia sementara berada jauh di depan partai-partai lainnya.

Namun, hasil akhir dan komposisi final 450 kursi Duma masih menunggu penyelesaian penghitungan resmi.

Pemilu 2026 sekaligus menjadi ujian politik pertama bagi Kremlin melalui pemilihan parlemen sejak perang Rusia-Ukraina memasuki fase penuh pada 2022.

Hasil akhirnya akan menentukan komposisi Duma untuk periode berikutnya, sementara proses penghitungan dan verifikasi suara masih berlangsung hingga pekan ini.

Komentar