JurnalPatroliNews | Jakarta — Menteri Koperasi Ferry Juliantono mendorong Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) mengembangkan koperasi sebagai salah satu instrumen pemberdayaan ekonomi umat.
Menurut Ferry, jaringan BKMT yang tersebar hingga berbagai daerah dan desa menjadi modal sosial yang dapat dikembangkan lebih jauh. Keberadaan koperasi di lingkungan BKMT dinilai dapat melengkapi aktivitas organisasi yang selama ini banyak bergerak di bidang pendidikan dan pembinaan keagamaan.
Dorongan tersebut disampaikan Ferry dalam Muktamar Ke-X BKMT dengan tema “Berdayakan Umat Membangun Indonesia” di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, Kamis (24/9/2026).
Dalam forum yang dihadiri Ketua Umum PP BKMT Syifa Fauzia, Ketua Dewan Pembina BKMT sekaligus Senator Jakarta Dailami Firdaus serta sekitar 2.000 anggota BKMT dari 34 provinsi, Ferry mengajak organisasi tersebut mulai mempertimbangkan pengembangan unit usaha berbentuk koperasi.
“Koperasi BKMT mudah-mudahan dapat dipertimbangkan untuk dibentuk dan didirikan sebagai bagian dari dakwah ekonomi. Dengan adanya koperasi ini akan mendekatkan ketertinggalan desa dengan kota sehingga tidak semakin jauh,” kata Ferry.
Koperasi sebagai Dakwah Ekonomi
Ferry menilai semangat persatuan, kekeluargaan dan kegotongroyongan yang menjadi karakter BKMT memiliki keterkaitan dengan prinsip dasar koperasi.
Ia juga mengaitkan perkembangan koperasi di Indonesia dengan gerakan ekonomi masyarakat yang tumbuh dari kalangan umat Islam. Menurut Ferry, Syarikat Dagang Islam sejak 1913 turut merintis gerakan koperasi di kalangan pedagang dan pengusaha pribumi. Pandangan tentang keterkaitan sejarah tersebut juga pernah disampaikan Ferry dalam berbagai forum Kementerian Koperasi.
“Sangat sejalan dengan koperasi. Koperasi pertama kali justru dirintis oleh tokoh-tokoh Islam tahun 1913 melalui Syarikat Dagang Islam. Dan di era jelang kemerdekaan Bung Hatta membangun konsep koperasi yang kemudian dituangkan di dalam Pasal 33 UUD 1945,” ujar Ferry.
Menurut dia, gagasan koperasi BKMT dapat diarahkan sebagai bagian dari dakwah ekonomi, yakni menghubungkan pembinaan umat dengan kegiatan produktif yang memberikan manfaat ekonomi bagi anggota dan masyarakat sekitar.
Dengan jaringan organisasi yang menjangkau hingga tingkat kecamatan, Ferry melihat BKMT memiliki basis anggota yang dapat menjadi kekuatan untuk mengembangkan kegiatan ekonomi secara lebih terorganisasi.
Dorong Lahirnya Pengusaha Muslim
Selain membangun koperasi, Ferry berharap BKMT dapat menjadi ruang tumbuh bagi pelaku usaha baru dari kalangan umat.
Kementerian Koperasi, kata dia, siap memberikan pendampingan, pembinaan hingga inkubasi bagi anggota BKMT yang mengembangkan kegiatan usaha.
“Kami terus mendorong agar melalui BKMT ini akan lahir pengusaha-pengusaha muslim/muslimah yang selanjutnya akan Kementerian Koperasi dampingi, inkubasi,” katanya.
Skema pendampingan tersebut diharapkan dapat membuat kegiatan ekonomi anggota BKMT berkembang secara lebih terstruktur, mulai dari penguatan kelembagaan, manajemen hingga pengembangan usaha.
Bila koperasi dapat tumbuh dari komunitas yang sudah memiliki jaringan sosial kuat, aktivitas ekonomi tersebut berpotensi terhubung dengan kebutuhan masyarakat di tingkat lokal.
BKMT Berusia 45 Tahun
Ferry juga mengapresiasi perjalanan BKMT yang telah memasuki usia 45 tahun. Menurutnya, keberadaan organisasi tersebut telah berkembang dari sekadar wadah menuntut ilmu menjadi bagian dari aktivitas pemberdayaan masyarakat.
Ia melihat modal sosial yang dimiliki BKMT dapat dikembangkan untuk memperluas manfaat organisasi, termasuk melalui kegiatan ekonomi produktif.
Penguatan ekonomi umat melalui koperasi juga sejalan dengan arah pemerintah yang tengah mendorong koperasi sebagai salah satu instrumen penguatan ekonomi masyarakat. Kementerian Koperasi saat ini juga sedang mempersiapkan operasional Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih di berbagai daerah.
Karena itu, gagasan koperasi BKMT ditempatkan dalam konteks yang lebih luas, yakni membangun aktivitas ekonomi berbasis komunitas.
Teknologi dan Nilai Keagamaan
Sementara itu, Ketua Dewan Pembina BKMT Dailami Firdaus menilai perkembangan zaman menuntut organisasi keagamaan untuk mampu mengikuti kemajuan teknologi.
Menurut Dailami, aktivitas dakwah tidak lagi berlangsung hanya di masjid atau majelis taklim. Ruang digital, media sosial dan perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Karena itu, anggota BKMT dinilai perlu memiliki literasi digital yang memadai agar mampu menghadapi derasnya arus informasi, termasuk informasi yang tidak benar.
“Untuk menghadapi ini semua harus kuasai teknologi karena sebagai alat bukan tujuan, karena itu pegangan bagi seluruh anggota untuk tetap memegang teguh iman, ilmu, amal dan teknologi,” tegas Dailami.
Ia menekankan teknologi harus ditempatkan sebagai alat pendukung, bukan menjadi fondasi yang menggantikan nilai keagamaan dan moral.
Muktamar Jadi Momentum Konsolidasi
Ketua Umum PP BKMT Syifa Fauzia mengatakan Muktamar Ke-X menjadi momentum bagi organisasi untuk memperkuat pengabdian di berbagai bidang.
Selain menjadi forum pergantian kepengurusan, muktamar juga menjadi ruang konsolidasi untuk memperkuat peran BKMT dalam pembangunan sumber daya manusia melalui kegiatan majelis taklim.
Pelaksanaan Muktamar Ke-X BKMT dan Milad ke-45 memang dijadwalkan berlangsung di Jakarta pada 24–26 September 2026, dengan rangkaian kegiatan yang melibatkan pengurus BKMT dari berbagai daerah.
Bagi BKMT, perluasan peran ke sektor pemberdayaan ekonomi membuka ruang baru bagi organisasi untuk memberikan manfaat kepada anggota dan masyarakat.
Sementara bagi Kementerian Koperasi, gagasan koperasi BKMT dapat menjadi salah satu bentuk pengembangan ekonomi berbasis komunitas yang menghubungkan kekuatan sosial organisasi dengan aktivitas usaha.
Dari majelis taklim, pembinaan umat kemudian diarahkan untuk memiliki dimensi yang lebih luas: pendidikan, penguatan karakter dan pemberdayaan ekonomi melalui koperasi.















Komentar