JurnalPatroliNews | Jakarta — Sosok Letnan Jenderal TNI Lucky Avianto mendapat perhatian dalam peringatan HUT ke-81 Tentara Nasional Indonesia (TNI), Senin (5/10/2026).
Pangkogabwilhan III tersebut dipercaya menjadi Komandan Upacara Parade HUT ke-81 TNI di Lapangan PRIMA, Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur. Ia memimpin ribuan personel dalam upacara yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto.
Penunjukan Lucky bukan tanpa alasan. Jenderal bintang tiga itu memiliki rekam jejak panjang di satuan elite Komando Pasukan Khusus (Kopassus) dan pengalaman penugasan di wilayah konflik maupun operasi keamanan, termasuk Papua.
Lulusan Pertama Taruna Nusantara
Lucky merupakan bagian dari angkatan pertama SMA Taruna Nusantara Magelang. Ia lulus pada 1993 sebelum melanjutkan pendidikan di Akademi Militer.
Tiga tahun kemudian, Lucky menamatkan pendidikan Akmil 1996 dengan predikat Adhi Makayasa, penghargaan bagi lulusan terbaik. Catatan pendidikan Lucky tidak berhenti di sana. Ia juga tercatat sebagai lulusan terbaik Seskoad 2011 dan Sesko TNI 2019.
Rekam pendidikan tersebut kemudian berjalan beriringan dengan karier operasionalnya di lingkungan TNI AD.
Karier Berawal dari Kopassus
Sejak awal berdinas, Lucky banyak menjalani penugasan di Kopassus. Berbagai jabatan strategis pernah dipercayakan kepadanya, mulai dari posisi komando satuan hingga jabatan staf operasi.
Dalam perjalanan kariernya, ia pernah menjadi Wakil Komandan Batalyon Infanteri 500/Raider dan Komandan Kodim 0829/Bangkalan. Setelah itu, kariernya berkembang ke sejumlah posisi strategis di lingkungan TNI AD.
Lucky kemudian dipercaya menduduki jabatan Kapusdiklat BIN, Staf Khusus KSAD, Waasops KSAD, hingga memimpin Komando Operasi (Koops) Habema di Papua.
Pada 6 Agustus 2025, ia ditunjuk sebagai Pangdam XXIV/Mandala Trikora. Selanjutnya, pada 26 Maret 2026, Lucky dipercaya menjadi Pangkogabwilhan III dengan pangkat Letnan Jenderal.
Enam Bulan Memimpin Kogabwilhan III
Jabatan sebagai Pangkogabwilhan III membawa Lucky berada di garis koordinasi pertahanan kawasan timur Indonesia, termasuk Papua dan Maluku.
Dalam periode tersebut, operasi terhadap kelompok bersenjata di Papua menjadi salah satu bagian penting dari tugas yang dijalankan di bawah komandonya.
Berdasarkan laporan yang mengutip keterangan TNI, sejumlah kontak senjata terjadi sepanjang 2026 dan menyebabkan anggota kelompok TPNPB-OPM dilaporkan tewas. Kumparan, misalnya, mencatat sedikitnya enam kontak tembak dan 16 anggota OPM tewas menurut keterangan TNI.
Angka tersebut merupakan data yang disampaikan pihak TNI dan tidak seluruhnya dapat diverifikasi secara independen.
Intan Jaya hingga Maybrat
Salah satu operasi terbaru terjadi di Distrik Agisiga, Kabupaten Intan Jaya, pada 25 September 2026.
Pasukan Timsus Yonif 315 Garuda dan Tim Taipur Koops TNI Habema dilaporkan terlibat kontak tembak dengan kelompok TPNPB-OPM. Dalam peristiwa tersebut, empat anggota kelompok dilaporkan tewas, sementara seluruh prajurit TNI dilaporkan selamat.
Kurang dari dua pekan kemudian, operasi kembali terjadi di Distrik Aifat, Kabupaten Maybrat, Papua Barat Daya.
Pada Sabtu malam, 3 Oktober 2026, pasukan gabungan di bawah kendali Kogabwilhan III terlibat kontak senjata dengan kelompok TPNPB-OPM Kodap IV Sorong Raya. Dua tokoh kelompok tersebut, Arso Aisnak dan Yohanes KY, dilaporkan tewas dalam kontak senjata tersebut.
Rangkaian operasi itu memperlihatkan bahwa posisi Lucky bukan hanya bersifat administratif. Ia juga menjadi salah satu pejabat militer yang secara langsung memberikan keterangan mengenai perkembangan operasi keamanan di Papua.
Penangkapan Abdon Kisamdu
Nama Lucky kembali mencuat ketika aparat TNI menangkap Abdon Kisamdu, yang disebut sebagai Wakil Komandan Batalyon TPNPB-OPM Kodap 35 Bintang Timur, di Bandara Nop Goliat Dekai, Yahukimo, 19 September 2026.
Menurut keterangan Lucky, Abdon telah lama masuk dalam daftar pencarian orang dan dalam pemeriksaan awal disebut mengaku datang ke Dekai untuk melakukan transaksi senjata api. Aparat juga menyatakan menemukan percakapan pada perangkat miliknya yang diduga berkaitan dengan rencana tersebut.
Kasus tersebut selanjutnya diarahkan untuk diproses melalui mekanisme hukum yang berlaku.
Ketegasan Berjalan Bersama Pendekatan Terukur
Rekam jejak Lucky di Papua kerap digambarkan sebagai pengalaman seorang perwira operasi. Namun, dalam posisinya sebagai Pangkogabwilhan III, tugasnya tidak hanya berbicara mengenai operasi militer.
Kogabwilhan III juga memiliki agenda yang berkaitan dengan perbatasan, pengamanan wilayah serta komunikasi sosial dengan masyarakat. Dalam sejumlah kegiatan, Lucky menekankan pentingnya sinergi, perhatian terhadap kebutuhan masyarakat dan dukungan terhadap pembangunan di wilayah penugasan.
Artinya, pendekatan keamanan di kawasan timur Indonesia tidak hanya bergantung pada kemampuan operasi, tetapi juga pada kemampuan membangun hubungan dengan masyarakat.
Dari Papua ke Lapangan Upacara Cilangkap
Pengalaman panjang tersebut kini membawa Lucky ke panggung nasional.
Pada HUT ke-81 TNI, ia berdiri di depan ribuan prajurit sebagai Komandan Upacara, sementara Presiden Prabowo bertindak sebagai Inspektur Upacara.
Pemilihan Lucky memberikan gambaran tentang sosok perwira yang memiliki pengalaman komando, pendidikan militer yang kuat, dan penugasan panjang di wilayah strategis.
Dari Papua hingga Cilangkap, karier Lucky menunjukkan satu garis perjalanan: dari satuan tempur, masuk ke jabatan strategis, kemudian dipercaya memegang kendali pertahanan kawasan timur Indonesia.
Kini, di tengah restrukturisasi besar TNI dan dinamika keamanan di Papua, Letjen Lucky Avianto menjadi salah satu wajah perwira yang berada di persimpangan antara profesionalisme militer, operasi keamanan dan tuntutan menjaga stabilitas wilayah.













Komentar