Oleh: Markus Wauran, Tou Amurang – Minahasa
Presiden Prabowo Subianto memiliki garis keturunan yang menyatukan dua budaya besar Indonesia. Ayahnya, Sumitro Djojohadikusumo, berasal dari Kebumen, Jawa Tengah. Sementara itu, ibunya, Dora Marie Sigar, berasal dari Langowan, Minahasa, Sulawesi Utara. Latar belakang tersebut menjadikan Prabowo sebagai putra yang tidak hanya memiliki ikatan historis dengan masyarakat Jawa, tetapi juga menjadi kebanggaan masyarakat Minahasa dan Sulawesi Utara.
Ketika Prabowo maju sebagai calon Presiden Republik Indonesia untuk periode 2024–2029, kebanggaan masyarakat Minahasa dan Sulawesi Utara terasa begitu kuat. Dalam sejarah politik Republik Indonesia, kehadiran calon presiden yang memiliki darah Minahasa menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Kawanua.
Kebanggaan tersebut tercermin dalam hasil Pemilu 2024. Prabowo meraih kemenangan dengan perolehan suara di atas 70 persen di Sulawesi Utara, salah satu capaian elektoral yang tinggi di tingkat nasional.
Namun, sejak pelantikannya pada 20 Oktober 2024, harapan besar yang menyertai kemenangan tersebut perlu dilihat berdampingan dengan realitas yang dirasakan oleh sebagian masyarakat.
Secara tradisi dan budaya, terpilihnya seorang putra yang memiliki ikatan leluhur dengan suatu daerah sebagai Presiden seharusnya menghadirkan sukacita bersama. Perayaan rakyat, doa syukur lintas agama, serta silaturahmi para tokoh Kawanua merupakan bentuk ekspresi kebersamaan yang diharapkan dapat mempererat hubungan emosional antara pemimpin dan masyarakatnya. Namun, berbagai ekspresi kebersamaan tersebut dinilai belum terwujud sebagaimana yang diharapkan oleh sebagian kalangan.
Masyarakat juga berharap putra-putri terbaik Sulawesi Utara memperoleh kesempatan untuk menduduki posisi strategis dalam Kabinet Merah Putih, tentunya berdasarkan kapasitas, kompetensi, dan keahlian masing-masing.
Sayangnya, harapan tersebut dinilai belum terpenuhi sebagaimana yang diinginkan. Dinamika serupa juga dirasakan dalam proses politik Pemilihan Gubernur Sulawesi Utara, yang turut menjadi bagian dari perjalanan politik dan harapan masyarakat setempat.
Hingga pertengahan 2026, kunjungan Presiden Prabowo ke Langowan, kampung halaman ibunya, belum terlaksana. Beberapa kali informasi mengenai rencana kunjungan tersebut beredar, tetapi pada akhirnya belum terwujud.
Dalam momentum Paskah 2026, misalnya, sosok yang hadir adalah Hashim Djojohadikusumo, bukan Presiden Prabowo Subianto.
Selain kunjungan singkat ke Pulau Miangas pada awal Mei 2026, masyarakat masih menantikan kunjungan resmi Presiden ke pusat wilayah Sulawesi Utara. Dalam kunjungan ke Miangas tersebut, pejabat tingkat provinsi disebut tidak terlihat hadir, sementara Presiden memilih singgah di Gorontalo sebelum kembali ke Jakarta.
Di sisi lain, masyarakat juga masih menantikan hadirnya proyek-proyek strategis berskala nasional yang dapat memberikan dampak nyata bagi pembangunan dan kesejahteraan daerah.
Di tengah berbagai harapan tersebut, setidaknya muncul dua pandangan utama di tengah masyarakat.
Pertama, kekecewaan terhadap kinerja kepemimpinan daerah.
Apabila persoalan yang dirasakan masyarakat berakar pada kinerja kepemimpinan daerah, penyelesaiannya harus ditempuh melalui jalur konstitusional dan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Langkah tersebut penting agar kepentingan masyarakat Sulawesi Utara tetap terlindungi dan rakyat tidak terus dirugikan oleh persoalan yang seharusnya dapat diselesaikan melalui mekanisme yang sah.
Kedua, adanya warisan hubungan dan dinamika politik masa lalu.
Pengalaman politik sejak 2004, 2009, 2014, hingga berbagai dinamika pasca-2019 mungkin meninggalkan jejak emosional tertentu bagi sebagian pihak. Jika hal tersebut turut memengaruhi hubungan yang terjalin saat ini, keadaan itu patut dipahami sebagai bagian dari dinamika antarmanusia dan perjalanan politik yang tidak selalu berjalan mulus.
Masa lalu, bagaimanapun, tidak seharusnya menjadi beban yang terus menghambat hubungan pada masa kini. Pengalaman yang telah berlalu semestinya menjadi pelajaran untuk membangun komunikasi yang lebih baik, membuka ruang saling memaafkan, dan memperkuat kembali rasa kebersamaan.
Apa pun akar persoalannya, hal terpenting saat ini adalah membuka kembali ruang dialog, membangun komunikasi yang terbuka, serta menumbuhkan semangat saling memahami. Biarlah masa lalu menjadi pelajaran berharga, bukan tembok pemisah yang menjauhkan masyarakat dari pemimpinnya.
Masyarakat Minahasa dan Sulawesi Utara diharapkan tetap memberikan dukungan terhadap pembangunan nasional secara positif, kritis, dan konstruktif. Dukungan tersebut tidak harus berarti menutup mata terhadap kekurangan, tetapi justru menjadi bagian dari upaya bersama untuk mendorong pembangunan yang lebih baik dan berkeadilan.
Sebaliknya, Presiden Prabowo Subianto juga diharapkan dapat membuka ruang dialog yang lebih luas dengan masyarakat di tanah leluhur ibunya. Dialog tersebut bukan semata-mata persoalan kunjungan seorang Presiden ke daerah asal keluarganya, melainkan kesempatan untuk mendengar aspirasi, memahami harapan masyarakat, dan memperkuat hubungan antara pemerintah pusat dengan daerah.
Pada akhirnya, keberhasilan Prabowo dalam menjalankan amanah sebagai Presiden merupakan kebanggaan bersama. Demikian pula, beratnya tantangan yang beliau pikul dalam memimpin bangsa ini merupakan tanggung jawab yang perlu didukung bersama, dengan tetap mengedepankan kritik yang membangun, komunikasi yang sehat, dan kepentingan nasional.
Sebab, kebanggaan terhadap seorang pemimpin tidak cukup hanya diwujudkan melalui ikatan darah atau asal-usul leluhur. Kebanggaan itu juga tumbuh dari hubungan yang terpelihara, perhatian yang dirasakan, komunikasi yang terbuka, dan pembangunan yang membawa manfaat nyata bagi masyarakat.
SI TOU TIMOU TUMOU TOU
PAKATUAN WO PAKALOWIREN
(Kita semua adalah satu, hendaklah kita bersatu dan seia sekata.)















Komentar