JurnalPatroliNews | SERUYAN – Upaya mengungkap penyebab jatuhnya helikopter MI-17V5 HA-5235 milik TNI Angkatan Darat di perairan Kuala Pembuang, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, memasuki perkembangan penting. Tim gabungan TNI dan Basarnas berhasil menemukan Cockpit Voice Recorder (CVR) atau perangkat perekam suara kokpit, Minggu (8/11/2026).
Perangkat tersebut ditemukan sekitar pukul 07.05 WIB setelah operasi pencarian dimulai sejak pukul 05.00 WIB. Pencarian dipimpin Kepala Seksi Operasi Korem 102/Panju Panjung, Kolonel Inf Abdul Jamal Husin.
Penemuan CVR menjadi bagian penting dalam rangkaian investigasi kecelakaan yang terjadi ketika helikopter menjalankan misi pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat (Kadispenad) Brigjen TNI Donny Pramono mengatakan, perangkat perekam tersebut selanjutnya akan diserahkan kepada tim investigasi Pusat Penerbangan Angkatan Darat (Puspenerbad).
“Cockpit Voice Recorder yang berhasil ditemukan selanjutnya diserahkan kepada Tim Investigasi Puspenerbad untuk mendukung penyelidikan lebih lanjut,” kata Donny, Minggu (8/11/2026).
Pencarian Berlangsung di Tengah Arus Kuat dan Air Keruh
Proses pencarian CVR tidak berlangsung mudah. Tim gabungan harus bekerja di tengah kondisi perairan yang memiliki arus cukup kuat, air keruh bercampur lumpur, serta jarak pandang bawah air yang sangat terbatas.
Operasi melibatkan penyelam TNI dari KOPPEBA, personel Penerbad, dan Basarnas. Mereka menyisir lokasi jatuhnya helikopter untuk menemukan perangkat perekam yang dibutuhkan dalam proses investigasi.
Kondisi lingkungan tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi tim penyelam. Meski demikian, pencarian akhirnya membuahkan hasil dengan ditemukannya CVR pada Minggu pagi.
Keberhasilan tersebut melengkapi temuan sebelumnya, yakni Flight Data Recorder (FDR) dan bagian ekor helikopter yang telah ditemukan serta dievakuasi pada Sabtu (7/11/2026).
CVR dan FDR Jadi Kunci Mengungkap Penyebab Kecelakaan
Ditemukannya dua perangkat perekam penerbangan tersebut diharapkan membantu tim investigasi menyusun gambaran lebih lengkap mengenai detik-detik sebelum helikopter mengalami kecelakaan.
CVR berfungsi merekam percakapan dan suara di dalam kokpit, termasuk komunikasi awak pesawat serta suara-suara tertentu yang dapat membantu proses analisis.
Sementara itu, FDR menyimpan data penerbangan, seperti parameter operasional dan kondisi teknis pesawat selama penerbangan, sesuai kemampuan sistem perekam yang terpasang.
Kedua perangkat tersebut memiliki fungsi berbeda, tetapi saling melengkapi dalam proses investigasi kecelakaan penerbangan.
Melalui analisis data FDR dan rekaman CVR, tim investigasi Puspenerbad diharapkan dapat menelusuri rangkaian kejadian, mengevaluasi kondisi penerbangan, serta mengidentifikasi faktor-faktor yang mungkin berkontribusi terhadap kecelakaan.
Namun, penyebab pasti insiden tersebut tetap menunggu hasil pemeriksaan teknis dan kesimpulan resmi tim investigasi.
Helikopter Jatuh Saat Misi Water Bombing Karhutla
Helikopter MI-17V5 HA-5235 mengalami kecelakaan pada Sabtu (7/11/2026) sekitar pukul 11.18 WIB ketika menjalankan misi pengambilan air untuk pemadaman karhutla melalui operasi water bombing di sekitar kawasan Taman Nasional Tanjung Puting.
Berdasarkan informasi awal, helikopter jatuh ke perairan dengan posisi terbalik. Lokasi kecelakaan berada sekitar satu kilometer dari bibir pantai, pada kedalaman kurang lebih enam meter.
Insiden tersebut mengakibatkan tiga prajurit TNI gugur, sedangkan lima personel lainnya berhasil selamat.
Peristiwa ini menjadi duka bagi keluarga besar TNI sekaligus pengingat besarnya risiko yang dihadapi personel saat menjalankan tugas penanggulangan bencana, termasuk operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan.
Investigasi Diharapkan Mengungkap Fakta Secara Menyeluruh
Penemuan CVR dan FDR menjadi modal penting bagi tim investigasi untuk melakukan pemeriksaan teknis secara lebih mendalam.
Selain menganalisis perangkat perekam, penyelidikan juga dapat mencakup pemeriksaan kondisi helikopter, riwayat pemeliharaan, faktor cuaca, kondisi lokasi operasi, serta prosedur pelaksanaan misi pemadaman karhutla.
Seluruh temuan nantinya perlu dianalisis secara menyeluruh agar penyebab kecelakaan dapat diketahui berdasarkan bukti teknis, bukan spekulasi.
Bagi keluarga korban dan masyarakat, hasil investigasi diharapkan memberikan kejelasan mengenai peristiwa yang merenggut nyawa tiga prajurit tersebut.
Penanganan perkara ini sekaligus menjadi bagian dari evaluasi keselamatan penerbangan militer, terutama dalam pelaksanaan misi kemanusiaan dan penanggulangan bencana di wilayah Indonesia.













Komentar