Laut China Selatan Makin Panas, Vietnam Kirim Kapal Perang

  • Whatsapp
Foto: Ilustrasi (AP/Mohammad Farooq)

JurnalPatroliNews – Jakarta,– Laut China Selatan (LCS) kembali memanas. Setelah sebelumnya China, Amerika Serikat (AS), dan Filipina bersitegang di perairan itu, kali ini Vietnam mulai bereaksi dan mengeluarkan tajinya.

Dilaporkan News.com.au Senin (11/4/2021), Hanoi mengikuti langkah beberapa negara yang sebelumnya menggelar latihan di perairan yang kaya akan hasil migas itu. Terlihat bahwa Negeri Paman Ho itu telah meluncurkan satu kapal perangnya ke wilayah yang membuat Vietnam panas terhadap China.

BACA JUGA :

“Penyebaran fregat Quang Trung dari proyek Cheetah-3.9 Angkatan Laut Vietnam di wilayah pulau-pulau yang disengketakan di kepulauan Spratly di Laut China Selatan (LCS). 3 April 2021,” lapor penyiar nasional Vietnam Television.

“Di Kepulauan Spratly, persiapan pertempuran berada pada tingkat tertinggi.

Lebih Lanjut, Vietnam juga secara tegas mengklaim kepemilikan historis dari tempat penangkapan ikan strategis tersebut. Vietnam menyebut China melanggar teritorinya.

“Aktivitas kapal China sangat melanggar kedaulatan Vietnam”, kata Kementerian Luar Negeri Hanoi.

LCS riuh beberapa pekan terakhir pasca 200 kapal nelayan China bersandar di wilayah Whitsun Reef. Sebelumnya Filipina menuduh bahwa hal ini dilakukan untuk memperluas klaim Negeri Tirai Bambu di perairan itu.

Klaim ini ditolak Beijing dengan mengatakan bahwa kapal-kapal itu sedang berlindung dari cuaca buruk. China juga mengatakan kapal-kapal masih berada di teritorinya.

AS yang membela Filipina menerjunkan Kapal induk USS Theodore Roosevelt dan kapal serbu amfibi USS Makin Island yang melakukan latihan di LCS akhir pekan kemarin. Dua kapal perang itu bergabung dengan beberapa kapal penjelajah, kapal perusak, dan kapal amfibi yang lebih kecil.

Di sisi lain, China menugaskan kapal induk pertama negara itu, Liaoning, berlayar ke LCS. Ini dilakukan untuk mengadakan latihan setelah menyelesaikan satu minggu latihan di sekitar Taiwan.

China mengklaim 90% wilayah LCS melalui konsep “Sembilan Garis Putus-putus”. Ini membuat ketagangan terjadi dengan sejumlah negara Asia Tenggara, bukan hanya Vietnam dan Filipina, tapi juga Malaysia dan Brunei.

(cnbc)

Pos terkait