Peneliti LIPI: Separatisme & Intoleransi Papua Bakal Jadi Masalah Terbesar RI!

  • Whatsapp
Aksi unjuk rasa orang Papua terkait permasalahan rasis di Surabaya (The Jakarta Post)

Jurnalpatrolinews – Jakarta, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia atau LIPI menyatakan sudah saatnya bangsa Indonesia merefleksikan masalah separatisme Papua dan meningkatnya intoleransi.

Menurut Peneliti LIPI, Prof DR Cahyo Pamungkas, Indonesia harus belajar dari proses refleksi itu, karena kedua masalah itu akan menjadi persoalan terbesar Indonesia selama satu dekade mendatang.

Bacaan Lainnya

“Dalam satu dekade ke depan, Indonesia akan menghadapi dua persoalan besar. Intoleransi dan separatisme di Tanah Papua,” kata Cahyo saat menyampaikan Orasi Ilmiah Pengukuhan Profesor Riset di lingkungan LIPI yang berlangsung di Jakarta seperti melansir jubi.co.id, Kamis, 27 Agustus 2020.

Dalam orasi pengukuhan berjudul Rekonstruksi Pendekatan dalam Kajian Konflik di Asia Tenggara: Kasus Indonesia, Thailand, Filipina, dan Myanmar itu, Cahyo menyebut intoleransi dan pengunaan politik identitas di Indonesia semakin terbuka, hingga mengancam prinsip kebhinekaan, semangat kebangsaan, dan etika kewarganegaraan.

“Hal itu diperburuk dengan berkembanganya gerakan khilafat Islamiah dan Indonesia bersyariah yang menjadikan fenomena intoleransi menemui konteks politiknya,” kata Cahyo.

Cahyo mengutip teori Clifford Geertz yang menyatakan negara bangsa perlu menempatkan sentimen keagamaan dalam posisi yang tidak bertentangan dengan nasion.

Cahyo juga menekankan pentingnya melihat sejarah integrasi, kekerasan politik, serta marginalisasi orang Papua, dan kegalalan pembangunan yang harus dibenahi.

“Konflik komunal, intoleransi, dan separatisme akan membayangi Indonesia, karena kita tak pernah serius mediskusikan nasion, proses menjadi orang Indonesia, dan keindonesiaan dalam konteks sosiologis,” kata Cahyo dalam orasinya.

Ia merekomendasikan agar pendekatan kajian konflik melihat ekosistem konflik tersebut, termasuk relasi dominasi dalam sistem sosial, ekonomi, dan politik yang mengakibatkan deprivasi relatif.

Cahyo menegaskan pendekatan represif disertai eksploitasi ekonomi bukanlah jawaban atas masalah separatisme.

Menurut Cahyo gerakan separatis tak bertujuan memisahkan diri, namun lebih didasari upaya untuk mengklaim kembali kemerdekaan yang dahulu ada dan telah dirampas oleh negara kolonial.

“Dialog untuk rekonsiliasi dengan kelompok separatis merupakan strategi yang bermartabat untuk menjaga integrasi. Sebaliknya, kelompok separatis dalam dialog akan menurunkan tuntutannya dari merdeka menjadi otonomi yang mampu melindungi hak dasar masyarakatnya,” kata Cahyo. (law justice)

Pos terkait