Sukanto Tanoto Beli Istana Raja Jerman, Berapa Kekayaannya?

  • Whatsapp
Foto: Gedung bekas Istana Raja di Jerman milik Sukanto Tanoto./cnbc

JurnalPatroliNews – Jakarta, Salah satu orang terjadi di republik ini, Sukanto Tanoto, baru-baru ini membeli aset properti bekas istana Raja Ludwig di Munchen, Jerman. Tentu saja pembelian ini dilakukan dengan harga yang fantastis, disebut-sebut harganya mencapai 350 juta euro atau hampir setara dengan harga Rp 6 triliun.

Untuk mampu membeli properti dengan harga fantastis ini, tentu dibutuhkan kekayaan yang besar juga. Lalu berapa kekayaan dari pengusaha ini?

Dilansir dari Forbes, hinga 12 Februari 2021 lalu kekayaannya mencapai US$ 1,4 miliar atau setara Rp 19,6 triliun (kurs Rp 14.000/US$). Nilai ini lebih rendah dari akhir tahun lalu yang mencapai US$ 1,6 miliar.

Dengan kekayaannya ini, Sukanto berada pada posisi ke 22 dari orang terkaya di Indonesia di akhir 2020 dan menjadi orang terkaya 1.730 di dunia.

Kekayaannya ini berasal dari bisnis yang dijalankannya saat ini yakni bidang kayu lapis, pulp dan kertas, minyak kelapa sawit, hingga pengembangan sumber daya energi di bawah perusahaan Royal Golden Eagle (RGE).

Dia memulai bisnisnya sebagai pemasok suku cadang dan pengusaha di bidang jasa konstruksi untuk industri minyak pada 1967.

RGE kemudian berkembang dari perusahaan nasional dan go global. Saat ini, kelompok usahanya telah menjadi bisnis terkemuka di bidang industri pulp dan kertas (APRIL dan Asia Symbol), minyak kelapa sawit (Asian Agri dan Apical), serat viscose (Sateri dan Asia Pacific Rayon), selulosa khusus (Bracell).

Selain itu dia juga majalankan bisnis sumber daya energi (Pacific Oil & Gas),dengan wilayah operasi di Indonesia, Tiongkok, Brasil, Spanyol, dan kantor-kantor pemasaran di banyak negara di seluruh dunia.

Bahkan, Bracell menjadi salah satu produsen selulosa khusus terbesar di dunia. Selulosa khusus ini digunakan dalam segala hal mulai dari tisu bayi hingga es krim.

Saat ini Sukanto Tanoto dikenal sebagai filantropis melalui organisasi bernama Tanoto Foundation yang didirikannya bersama sang istri pada tahun 1981 yang berfokus pada bidang pendidikan.

Pada 2018 lalu dia menjadi sponsor Asian Games 2018 dan berkomitmen merenovasi perpustakaan dari 31 medali emas Indonesia melalui organisasi filantropinya ini.

Perusahaan yang dimilikinya ini juga telah mengalokasikan US$ 200 juta untuk mengembangkan bahan baku nabati dan solusi manufaktur bersih untuk membuat tekstil.

(cnbc)

Pos terkait