Dorong Net Zero 2060, Indonesia Perkuat Aksi Iklim Lewat Kolaborasi Strategis

JurnalPatroliNews – Jakarta – Indonesia terus menegaskan komitmennya dalam menghadapi krisis iklim global dengan menargetkan Net Zero Emission (NZE) paling lambat tahun 2060.

Tekad tersebut sejalan dengan kesepakatan internasional yang dicapai pada COP26 di Glasgow, Skotlandia, di mana 146 negara menyepakati pembatasan kenaikan suhu bumi maksimal 1,5°C serta pengurangan emisi secara signifikan.

Negara-negara yang mendukung kesepakatan itu mewakili 88% total emisi global, dan Indonesia menjadi bagian penting dalam upaya tersebut. Dalam forum internasional tersebut, Mari Elka Pangestu, selaku Utusan Khusus untuk Aliansi Global Blended Finance (GBF), menegaskan bahwa Indonesia berkomitmen penuh menuju emisi nol bersih pada 2060 atau bahkan lebih awal.

Komitmen ini diperkuat melalui penyusunan dokumen strategis Long-Term Strategy for Low Carbon and Climate Resilience (LTS-LCCR), serta pembaruan target kontribusi nasional atau Nationally Determined Contribution (NDC), yang melibatkan kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemerintah hingga swasta.

Tak hanya berhenti di tataran kebijakan, aksi konkret ditunjukkan melalui kemitraan antara sektor perbankan dan logistik. Salah satunya ditunjukkan oleh kerja sama BCA dan DHL Express Indonesia dalam program GoGreen Plus, sebuah inisiatif yang bertujuan untuk menurunkan jejak karbon di sektor pengiriman barang.

“Keberlanjutan adalah hal esensial bagi mitra kami, termasuk lembaga keuangan,” ujar Ahmad Mohamad, Senior Technical Advisor DHL Express Indonesia, dalam pernyataannya pada Selasa, 15 Juli 2025.

Sementara itu, Tjoe Henny, EVP International Banking Division BCA, menilai bahwa kolaborasi ini merupakan bagian dari integrasi prinsip hijau dalam layanan keuangan.

“Kami ingin menciptakan dampak jangka panjang yang tidak hanya menguntungkan nasabah, tetapi juga memberikan nilai berkelanjutan bagi seluruh pemangku kepentingan,” jelasnya.

Program GoGreen Plus menawarkan solusi bagi pelanggan untuk mengurangi emisi dari pengiriman melalui skema book & claim, di mana pelanggan membeli kredit penggunaan Sustainable Aviation Fuel (SAF) meskipun bahan bakar ramah lingkungan tersebut belum langsung digunakan dalam pengiriman mereka.

Dengan potensi memangkas emisi hingga 80% dibanding bahan bakar jet konvensional, SAF dipandang sebagai pilar penting dalam strategi dekarbonisasi sektor transportasi udara—dan Indonesia tak ingin tertinggal dalam momentum tersebut.