JurnalPatroliNews – Jakarta – Setelah dua minggu berada di bawah tekanan jual, Dolar Amerika Serikat memulai pekan ini dengan pergerakan yang relatif stabil. Namun, ketenangan tersebut dipandang pasar hanya sebagai “masa tenang sebelum badai”, mengingat gelombang agenda rapat bank sentral dunia yang akan berlangsung beberapa hari ke depan dengan keputusan Federal Reserve (The Fed) menjadi sorotan terbesar pada hari Rabu.
Kinerja dolar yang tercermin melalui Indeks DXY diprediksi akan ditentukan bukan hanya oleh keputusan tingkat suku bunga, tetapi terutama oleh bahasa dan pesan kebijakan yang disampaikan The Fed.
Hampir seluruh pelaku pasar memperkirakan The Fed akan menurunkan suku bunga. Namun, elemen krusial bukan pada tindakan pemotongannya, melainkan pada pernyataan Ketua The Fed Jerome Powell seusai keputusan tersebut diumumkan.
Saat ini banyak analis memprediksi The Fed akan memilih langkah “hawkish cut” — pemangkasan suku bunga yang secara teori bersifat dovish, tetapi dibarengi dengan peringatan tegas dan sikap berhati-hati mengenai arah kebijakan moneter ke depan.
Mengapa ini menjadi penentu?
Jika The Fed menunjukkan nuansa hawkish dan memberikan sinyal bahwa penurunan suku bunga berikutnya kemungkinan terbatas hanya satu hingga dua kali tahun depan, ekspektasi pelonggaran moneter agresif akan mereda. Skenario ini berpotensi menguatkan kembali Dolar AS, sekaligus menahan tekanan jual yang terjadi sejak pertengahan bulan.
Bob Savage dari BNY menyebutkan potensi munculnya ketidaksepakatan internal di tubuh komite The Fed, mencerminkan perbedaan tajam antara kelompok yang mendorong pelonggaran moneter (dovish) dan kelompok yang mengutamakan pengetatan (hawkish).
Sementara itu, pergerakan mata uang lainnya berlangsung dalam ruang yang relatif terbatas:
- Euro bertahan di sekitar 1,1644
- Yen Jepang stabil di 155,28 per dolar
Namun situasinya berbeda untuk mata uang berorientasi komoditas, yang bergerak cukup signifikan di tengah prospek kebijakan moneter masing-masing negara:
- Dolar Australia (AUD) menguat ke level tertinggi dalam dua setengah bulan setelah data inflasi yang panas memunculkan kemungkinan kenaikan suku bunga pada Mei mendatang.
- Dolar Kanada (CAD) melonjak kuat usai rilis data ketenagakerjaan yang positif, membuat pasar mulai mempertimbangkan peluang kenaikan suku bunga tahun depan meskipun Bank of Canada diperkirakan akan menahan suku bunga pekan ini.
- Franc Swiss (CHF) sedikit melemah karena rendahnya inflasi membuat Swiss National Bank diprediksi mempertahankan suku bunga 0% untuk jangka waktu cukup lama.
Walaupun bank sentral Australia, Kanada, Swiss, dan Brasil juga dijadwalkan menggelar rapat kebijakan pekan ini, pasar tidak melihat adanya pergeseran suku bunga besar selain dari The Fed. Dengan demikian, Indeks DXY dan keputusan The Fed akan menjadi penentu arah pasar valuta asing global sepanjang pekan.














