JurnalPatroliNews – JAKARTA – Harga minyak dunia ditutup melemah tajam pada perdagangan Kamis (4/6/2026) waktu setempat seiring meredanya kekhawatiran pasar terhadap potensi meluasnya konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah. Berkurangnya risiko gangguan pasokan energi mendorong investor melakukan aksi ambil untung setelah sebelumnya harga minyak terdongkrak oleh ketegangan regional.
Minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) ditutup turun 3,1 persen ke level 93,04 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah Brent Crude melemah 2,8 persen dan berakhir di posisi 95,03 dolar AS per barel.
Penurunan harga terjadi setelah muncul laporan yang menyebut Presiden AS, Donald Trump, tidak berencana melanjutkan konflik menjadi perang skala penuh dengan Iran meskipun ketegangan dan bentrokan sporadis masih terjadi di kawasan.
Sikap tersebut dinilai pasar sebagai sinyal positif karena mengurangi kekhawatiran terhadap potensi terganggunya pasokan minyak dari Timur Tengah, wilayah yang menjadi salah satu pusat produksi energi dunia.
Sentimen positif juga datang dari tercapainya kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon. Kesepakatan tersebut dipandang dapat membuka peluang bagi kemajuan jalur diplomatik, termasuk perundingan yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran.
Di sisi lain, langkah Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat yang mengesahkan resolusi untuk mendesak Presiden Trump menarik pasukan AS atau memperoleh persetujuan Kongres sebelum memperluas keterlibatan militer turut memperkuat keyakinan investor bahwa konflik tidak akan berkembang menjadi perang regional yang lebih besar.
Analis menilai meredanya ketegangan geopolitik menyebabkan premi risiko yang sebelumnya melekat pada harga minyak mulai menghilang. Kondisi ini membuat pelaku pasar memilih merealisasikan keuntungan setelah reli harga yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir.
Dengan berkurangnya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan global, fokus investor kini kembali tertuju pada faktor fundamental pasar energi, termasuk tingkat produksi negara-negara eksportir utama, permintaan global, serta prospek pertumbuhan ekonomi dunia yang akan memengaruhi konsumsi minyak dalam beberapa bulan ke depan.















Komentar