Harga BBM Melonjak, Maskapai Murah Mulai Pangkas Penerbangan


JurnalPatroliNews – Jakarta –  Sejumlah maskapai penerbangan berbiaya rendah di berbagai negara mulai memangkas frekuensi penerbangan akibat lonjakan biaya operasional yang dipicu naiknya harga bahan bakar minyak (BBM) global.

Kenaikan harga avtur tersebut disebut sebagai dampak langsung dari konflik yang terus memanas di Timur Tengah, termasuk gangguan distribusi energi dunia akibat penutupan Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan minyak internasional.

Mengutip laporan AFP, Sabtu (2/5/2026), gejolak pasar energi telah memicu lonjakan harga bahan bakar jet yang menjadi salah satu komponen biaya terbesar dalam industri penerbangan.

Maskapai berbiaya rendah atau low-cost carrier yang menguasai sekitar sepertiga pasar penerbangan global menjadi pihak yang paling cepat merasakan tekanan tersebut.

Model bisnis yang mengandalkan tarif tiket murah membuat ruang bagi maskapai untuk menyerap kenaikan biaya energi menjadi sangat terbatas, sehingga penyesuaian operasional tak terhindarkan.

Di Kanada, maskapai Air Transat telah memangkas sekitar enam persen jadwal penerbangan untuk periode Mei hingga Oktober 2026.

Sementara di Asia Tenggara, AirAsia X juga mengumumkan pengurangan sejumlah penerbangan, meski belum merinci jumlah rute atau frekuensi yang dipangkas.

Dari Eropa, maskapai Lufthansa berencana memangkas hingga 20.000 penerbangan sampai Oktober mendatang sebagai bagian dari langkah efisiensi menghadapi tekanan biaya.

Kemudian, grup penerbangan Air France-KLM juga menyesuaikan kapasitas operasionalnya dengan memangkas sekitar dua persen penerbangan pada Mei dan Juni melalui anak usahanya, Transavia.

Maskapai Irlandia Ryanair turut mengurangi penerbangan ke dan dari Berlin mulai Oktober, serta memangkas sekitar 10 persen jadwal keberangkatan dari Dublin.

Meski tidak secara langsung mengaitkannya dengan kenaikan harga bahan bakar, langkah tersebut dinilai sebagai bagian dari penyesuaian strategi menghadapi tekanan biaya.

Sementara itu, maskapai Spanyol Volotea telah lebih dulu memangkas hampir satu persen jadwal penerbangan musim panasnya sejak awal bulan.

Dalam kondisi normal sebelum konflik, maskapai berbiaya murah masih mampu mempertahankan sejumlah rute dengan margin tipis, bahkan beberapa yang merugi demi menjaga pangsa pasar.

Namun, lonjakan tajam harga bahan bakar kini memaksa perusahaan melakukan evaluasi besar-besaran, termasuk memangkas rute, frekuensi penerbangan, hingga menyesuaikan harga tiket.

Dampak kebijakan ini diperkirakan akan semakin terasa menjelang puncak musim liburan musim panas, ketika permintaan perjalanan biasanya melonjak tinggi.

Komisaris Energi Uni Eropa, Dan Jørgensen, mengingatkan bahwa situasi ini bisa berdampak langsung pada masyarakat yang berencana bepergian.

“Sayangnya, sangat mungkin liburan banyak orang akan terpengaruh, baik oleh pembatalan penerbangan atau tiket yang sangat, sangat mahal,” kata Dan kepada Sky News pekan lalu.

Kondisi ini menambah tekanan baru bagi industri penerbangan global yang sebelumnya baru mulai pulih pascapandemi, namun kini kembali diuji oleh ketidakstabilan geopolitik dan lonjakan harga energi dunia.