Sulut Kembali Ekspor Kelapa Parut ke 4 Negara, Nilai Ekonomi Sampai Oktober Capai Rp397,51 Miliar

  • Whatsapp

Jurnalpatrolinews – Manado : Kementerian Pertanian melalui Karantina Pertanian Manado kembali melakukan ekspor kelapa parut asal Sulawesi Utara (Sulut) secara serentak ke empat negara.

Masing-masing adalah Cina sebanyak 104 ton, Irak 26 ton, Rusia 26 ton serta Selandia baru sebanyak 37, 4 ton dengan total nilai ekonomi sebesar Rp4,99 miliar melalui Pelabuhan Laut Bitung pada Rabu (18/11/2020).

Bacaan Lainnya

“Kelapa parut yang dikirim ke empat negara tersebut dijamin sehat dan aman sampai di negara tujuan karena sudah memenuhi persyaratan negara tujuan baik dari aspek kesehatan maupun standar keamanan pangannya sebelum diberangkatkan,” ungkap Donni Muksydayan selaku Kepala Karantina Manado saat menyerahkan surat kesehatan tumbuhan atau phytosanitary certificate (PC) kepada eksportir Tri Mustika Cocominaesa dan PT. Royal Coconut.

Menurut Donni, kelapa parut asal Sulut ini semakin diminati di pasar global dan merupakan salah satu produk unggulan ekspor asal sulut yang meningkat signifikan terutama dalam kondisi ekonomi yang melemah akibat pandemi.

Hal ini tidak terlepas dari dukungan pemerintah daerah dan juga kemudahan layanan ekspor oleh Bea Cukai dan layanan di pelabuhan yang baik dan kerjasama petani serta pelaku usaha yang sinergis, sehingga produk berkualitas dan pasar terus berkelanjutan.

Berdasarkan data Karantina Pertanian Manado sebagaimana dalam siaran pers yang diterima BeritaManado.com, tercatat fasilitasi ekspor kelapa parut selama bulan Januari hingga Oktober tahun 2020 sebanyak 16,72 ribu ton dengan nilai ekonomis Rp 397,51 miliar.

Hal ini meningkat sebanyak 31,3 persen dibanding periode sama tahun 2019 yang hanya berhasil mencatat sebanyak 12,73 ribu ton dengan perolehan nilai ekonomi Rp. 261,56 miliar.

Lebih lanjut Donni menerangkan, supaya ekspor kelapa parut ini meningkat dan terus berkelanjutan, Karatina Pertanian Manado melakukan percepatan pelayanan tindakan karantina.

Selain itu juga secara rutin memberikan bimbingan teknis pemenuhan persyaratan sanitari dan fitosanitari, sesuai yang dipersyaratkan negara tujuan ekspor.

Masih menurut Donni, salah satu cara untuk meningkatkan nilai pertumbuhan ekspor adalah dengan mendorong ekspor produk olahan setengah jadi dan bentuk jadi.

Kini ekspornya tidak lagi dalam bentuk kelapa bulat namun sudah lebih banyak berupa santan atau kelapa parut.

Secara terpisah, Kepala Badan Karantina Pertanian (Barantan), Ali Jamil menyebutkan, sejalan dengan tugas strategis yang diberikan oleh Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) untuk mengawal upaya peningkatan ekspor, dengan Gerakan Tiga Kali Lipat Ekspor Pertanian atau Gratieks, pihaknya mendorong hilirisasi produk segar yang telah memiliki pasar ekspor.

Menurut Jamil, ekspor produk dalam bentuk olahan menjadi pilihan terbaik saat ini, di mana selain bernilai tambah, tahan lama dan mudah mengemasnya.

“Sulut sudah menerapkan hal ini pada komoditas kelapa dan harapannya kedepan juga dilakukan pada komoditas pertanian segar unggulan ekspor lainnya,” tukas Jamil.

(***/srisurya)

Pos terkait