Telkom Optimistis Hadapi 2026, Dian Siswarini: Penuh Peluang Sekaligus Tantangan


JurnalPatroliNews – JAKARTA – PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) menilai tahun 2026 menjadi periode yang sarat peluang sekaligus tantangan bagi industri telekomunikasi dan digital nasional. Untuk itu, perseroan terus mempercepat implementasi strategi transformasi TLKM 30 guna memperkuat keberlanjutan bisnis serta menciptakan nilai tambah yang optimal bagi pemegang saham dan masyarakat.

Direktur Utama Telkom, Dian Siswarini, mengatakan capaian kinerja pada kuartal I-2026 menjadi modal awal yang positif bagi TelkomGroup untuk terus meningkatkan performa bisnis di tengah dinamika industri yang semakin kompetitif.

“Kinerja kuartal pertama tahun 2026 ini menjadi awal yang baik dan motivasi bagi TelkomGroup untuk dapat terus melakukan perbaikan secara bertahap guna memberikan pencapaian dan kontribusi terbaik bagi perusahaan, pelanggan, masyarakat, dan negara,” ujar Dian dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Senin (1/6/2026).

Menurut Dian, capaian tersebut mencerminkan konsistensi perusahaan dalam menjaga disiplin operasional sembari mengakselerasi berbagai agenda transformasi yang telah dicanangkan melalui strategi TLKM 30.

Di sektor seluler, Telkomsel akan terus fokus menjaga rata-rata pendapatan per pelanggan atau Average Revenue Per User (ARPU) melalui peningkatan produktivitas pelanggan serta pengembangan layanan digital lifestyle yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Dian menilai prospek industri telekomunikasi nasional masih sangat menjanjikan karena layanan internet dan konektivitas telah menjadi kebutuhan primer masyarakat.

“Dalam beberapa tahun terakhir pun kami melihat kebutuhan terhadap layanan internet terus tumbuh dan belum menunjukkan adanya tren penurunan. Kami optimistis untuk memperkuat ekosistem mobile dan fixed broadband secara berkelanjutan dengan tetap mengutamakan customer experience yang baik,” katanya.

Pada segmen Business-to-Business (B2B) Infrastructure, Telkom mencatat pendapatan sebesar Rp2,4 triliun atau tumbuh 6,8 persen secara tahunan (year-on-year/YoY). Pertumbuhan tersebut ditopang ekspansi berkelanjutan bisnis Fiber-to-the-Tower (FTTT).

Sementara itu, anak usaha Telkom di sektor menara telekomunikasi, Mitratel, membukukan pendapatan Rp2,3 triliun atau tumbuh 1,4 persen YoY. Pendapatan masih didominasi oleh bisnis penyewaan menara (tower leasing) dan layanan terkait menara telekomunikasi.

Dengan pengelolaan biaya yang dinilai efektif dan fundamental bisnis yang kuat, Mitratel mampu mempertahankan margin EBITDA pada level 82,7 persen.

Sebagai salah satu pemain terbesar bisnis menara telekomunikasi di Asia Tenggara, Mitratel juga memperkuat portofolio aset serat optik. Pada kuartal I-2026, perusahaan menambah jaringan fiber optic sepanjang 1.080 kilometer sehingga total kepemilikan mencapai 58.279 kilometer.

Ekspansi tersebut dinilai berhasil mendorong pertumbuhan bisnis FTTT sekaligus memperkuat posisi Mitratel sebagai perusahaan menara generasi baru yang terintegrasi dengan layanan digital.

Di sektor pusat data (data center), Telkom melihat peluang pertumbuhan yang semakin besar seiring meningkatnya kebutuhan industri terhadap layanan komputasi dan penyimpanan data.

Pendapatan dari segmen ini berasal dari fasilitas data center dan layanan colocation yang dikelola NeutraDC Group, serta fasilitas edge data center NeuCentrIX yang saat ini berada di bawah kendali operasional Telkom.

Untuk mengoptimalkan peluang tersebut, perseroan tengah melakukan konsolidasi aset pusat data dengan menjadikan NeutraDC sebagai pengelola utama seluruh aset data center milik grup.

Menurut Dian, langkah tersebut akan membuka peluang monetisasi aset yang lebih besar, memperluas layanan, serta meningkatkan kolaborasi dengan berbagai mitra strategis.

“Tahun 2026 menjadi periode yang penuh peluang sekaligus tantangan bagi TelkomGroup. Karena itu, kami akan terus mempercepat eksekusi strategi transformasi TLKM 30 dengan tetap mengutamakan prinsip disiplin operasi untuk memperkuat keberlanjutan bisnis, menghadirkan layanan yang semakin inklusif, serta membangun ekosistem digital yang mampu menciptakan dampak lebih luas,” tegasnya.

Sepanjang tiga bulan pertama 2026, Telkom membukukan pendapatan konsolidasi sebesar Rp37,2 triliun atau tumbuh 1,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Perseroan juga mencatat EBITDA sebesar Rp18 triliun dengan margin EBITDA 48,3 persen. Sementara laba bersih tercatat Rp4,3 triliun dengan margin laba bersih 11,7 persen.

Adapun laba bersih yang dinormalisasi mencapai Rp5,1 triliun dengan margin laba bersih yang dinormalisasi sebesar 13,8 persen.

Manajemen menjelaskan kontraksi laba bersih terutama dipengaruhi dampak lanjutan percepatan depresiasi aset dan proses normalisasi bisnis yang masih berlangsung dalam fase transformasi perusahaan.