BPD Bali Makin Perkasa! Aset Tembus Rp44,16 Triliun, Kredit UMKM Melonjak 14,52 Persen

JurnalPatroliNews | Denpasar — Bank Pembangunan Daerah Bali (BPD Bali) memasuki fase penting dalam memperkuat fondasi bisnis di tengah dinamika industri perbankan yang semakin kompleks. Hingga Agustus 2026, bank milik pemerintah daerah tersebut mampu menjaga pertumbuhan aset, memperkuat modal, meningkatkan penyaluran kredit, sekaligus mempertahankan kualitas aset.

Kinerja tersebut menjadi salah satu modal penting bagi BPD Bali dalam menghadapi tantangan industri keuangan ke depan. Pada 9 September 2026, jajaran manajemen bersama para pemegang saham menggelar pertemuan di Kantor Pusat Bank BPD Bali, Denpasar, untuk mengevaluasi kinerja hingga Agustus sekaligus membahas isu strategis dan arah pengembangan bisnis.

Pertemuan tersebut tidak hanya menjadi forum evaluasi angka keuangan. Lebih jauh, sinergi antara manajemen dan pemerintah daerah menjadi bagian dari strategi memperkuat posisi BPD Bali sebagai lembaga keuangan yang berperan langsung dalam menggerakkan perekonomian daerah.

Direktur Utama Bank BPD Bali, I Nyoman Sudharma, mengatakan arahan pemegang saham menjadi bagian penting dalam menentukan langkah perseroan menghadapi perubahan kondisi ekonomi.

“Diskusi dan masukan dalam rapat hari ini menjadi pedoman penting bagi kami untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan, serta memperkuat fondasi bisnis Bank BPD Bali agar lebih adaptif dalam menghadapi dinamika ekonomi ke depan,” ujar Sudharma.

Aset Tumbuh, Modal Makin Tebal

Di tengah persaingan industri perbankan, BPD Bali mencatat pertumbuhan aset 6,05 persen secara tahunan hingga Agustus 2026.

Nilai aset perseroan mencapai Rp44,164 triliun, sekaligus melampaui target yang telah ditetapkan.

Yang menarik, pertumbuhan tersebut berjalan beriringan dengan penguatan permodalan.

Modal inti BPD Bali meningkat 21,08 persen secara tahunan menjadi Rp6,253 triliun. Penguatan tersebut membuat rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) berada pada level 30,59 persen.

Angka tersebut menunjukkan ruang permodalan yang relatif kuat untuk menopang ekspansi bisnis sekaligus menjadi bantalan ketika industri menghadapi tekanan eksternal.

Kinerja ini juga melanjutkan tren positif yang sebelumnya sudah terlihat pada pertengahan tahun. Per Mei 2026, aset BPD Bali tercatat Rp43,12 triliun atau tumbuh 8,19 persen secara tahunan, sedangkan kredit mencapai Rp25,63 triliun.

Dana Nasabah Tetap Menjadi Mesin Pertumbuhan

Pertumbuhan bisnis BPD Bali juga ditopang kepercayaan masyarakat.

Hingga Agustus 2026, Dana Pihak Ketiga (DPK) yang berhasil dihimpun mencapai Rp36,317 triliun, tumbuh 4 persen secara tahunan.

Struktur pendanaan juga menunjukkan upaya bank memperbesar porsi dana murah. Giro tercatat tumbuh 13,65 persen, sementara rasio Current Account Saving Account (CASA) mencapai 66,47 persen.

Kondisi tersebut menjadi penting bagi bank karena peningkatan dana murah dapat membantu menjaga efisiensi biaya dana ketika persaingan penghimpunan dana semakin ketat.

Dari sisi operasional, rasio BOPO berada pada 59,29 persen, yang menunjukkan perseroan masih mampu menjaga efisiensi dalam menjalankan kegiatan usahanya.

Laba Rp945 Miliar, Kredit UMKM Jadi Sorotan

Dari sisi profitabilitas, BPD Bali berhasil membukukan laba Rp945 miliar, tumbuh 8,14 persen secara tahunan.

Namun, kontribusi BPD Bali terhadap perekonomian Bali tidak hanya dapat dilihat dari besarnya laba. Peran intermediasi melalui penyaluran kredit justru menjadi salah satu indikator penting.

Hingga Agustus 2026, total kredit yang disalurkan mencapai Rp26,201 triliun, tumbuh 7,03 persen secara tahunan.

Lebih spesifik, kredit kepada sektor UMKM melonjak 14,52 persen menjadi Rp14,154 triliun.

Angka tersebut menunjukkan bahwa ekspansi kredit BPD Bali semakin diarahkan pada sektor ekonomi produktif yang bersentuhan langsung dengan aktivitas masyarakat dan pelaku usaha daerah.

Porsi kredit produktif kini mencapai 62,39 persen dari total portofolio kredit.

Dengan struktur tersebut, BPD Bali tidak hanya menjalankan fungsi sebagai lembaga intermediasi, tetapi juga berupaya menempatkan kredit sebagai instrumen untuk memperluas aktivitas ekonomi, mendorong usaha lokal, membuka lapangan kerja dan memperkuat daya beli masyarakat.

Ekspansi Kredit Tidak Mengabaikan Risiko

Pertumbuhan kredit tentu membawa konsekuensi berupa kebutuhan menjaga kualitas aset.

BPD Bali mencatat Non-Performing Loan (NPL) Gross sebesar 1,03 persen, sedangkan Loan at Risk (LaR) berada di level 3,30 persen.

Angka tersebut menjadi indikator bahwa ekspansi pembiayaan tetap dibarengi prinsip kehati-hatian.

Di tengah kondisi ekonomi yang dapat berubah cepat, kemampuan bank menjaga keseimbangan antara pertumbuhan kredit dan kualitas aset menjadi faktor penting.

Sebab, ekspansi yang terlalu agresif tanpa pengelolaan risiko dapat berubah menjadi tekanan kualitas kredit. Sebaliknya, terlalu konservatif juga dapat mengurangi peran bank dalam mendorong aktivitas ekonomi.

BPD Bali kini berada pada posisi untuk mencari titik keseimbangan tersebut.

Dari Bank Daerah Menuju Pemain yang Lebih Kompetitif

Perkembangan kinerja BPD Bali juga tidak dapat dilepaskan dari agenda transformasi perusahaan.

Bank sebelumnya telah menetapkan arah menuju Kelompok Bank Berdasarkan Modal Inti (KBMI) 2 dalam corporate plan 2026-2030.

Langkah tersebut memperlihatkan bahwa BPD Bali tidak ingin hanya menjadi bank yang menjalankan fungsi konvensional sebagai bank milik pemerintah daerah.

Bank didorong menjadi institusi keuangan yang lebih kompetitif, adaptif, kuat secara modal, dan mampu mengikuti perubahan kebutuhan masyarakat.

Transformasi digital juga menjadi bagian dari agenda tersebut. Dalam perkembangan sebelumnya, BPD Bali telah mendorong layanan transaksi digital dan QRIS Cross Border untuk memperluas kemudahan transaksi masyarakat serta mendukung aktivitas ekonomi Bali yang memiliki keterkaitan kuat dengan sektor pariwisata.

Tantangan Berikutnya Bukan Sekadar Mengejar Pertumbuhan

Kinerja hingga Agustus memberikan gambaran bahwa BPD Bali memiliki fondasi yang cukup kuat untuk melanjutkan ekspansi.

Tetapi tantangan berikutnya justru lebih kompleks.

Perubahan suku bunga, kondisi likuiditas, kualitas kredit, perkembangan ekonomi nasional, digitalisasi layanan keuangan dan persaingan antarbank akan menentukan seberapa kuat pertumbuhan tersebut dapat dipertahankan.

Karena itu, rapat bersama pemegang saham menjadi penting bukan hanya untuk melihat pencapaian angka, tetapi juga menentukan strategi menghadapi risiko yang belum tentu terlihat dari laporan keuangan saat ini.

Bagi Bali, posisi BPD Bali memiliki arti lebih luas. Bank daerah bukan hanya dituntut menghasilkan keuntungan, tetapi juga memastikan fungsi intermediasi berjalan efektif untuk mengalirkan pembiayaan kepada sektor produktif.

Dengan aset yang telah mencapai Rp44,164 triliun, modal inti Rp6,253 triliun, kredit Rp26,201 triliun dan kredit UMKM Rp14,154 triliun, BPD Bali kini memiliki basis yang semakin besar untuk menjalankan peran tersebut.

Tantangannya adalah bagaimana angka-angka tersebut tidak berhenti sebagai statistik kinerja, tetapi benar-benar diterjemahkan menjadi pertumbuhan ekonomi yang dirasakan masyarakat Bali.

Dengan fondasi modal yang semakin kuat, efisiensi yang terjaga, ekspansi kredit produktif dan dukungan pemegang saham, BPD Bali tengah membangun posisi baru: bukan sekadar bank milik daerah, tetapi salah satu instrumen strategis untuk memperkuat ekonomi Bali di tengah perubahan lanskap industri keuangan nasional. (Sarjana/*)

Komentar

Berita Lainnya