Gedong Kirtya, Museum Menyimpan Lontar dan Buku Tua

Gedong Kirtya terdapat ribuan koleksi lontar tersimpan rapi dalam kotak yang disebut keropak dengan panjangnya sekitar 60 centimeter. Hal itu semua tersusun rapi berdasarkan kelompok atau klasifikasi. Dimana, barisan paling atas Lontar Sasak, isinya tentang budaya Sasak. Kemudian Matrastawa (mantra/puja/weda), Niticastra (etik), Wariga (astronomi dan astrologi), Tutur (petuah), Usadha (pengobatan tradisional), Geguritan (kidung), Babad Pamancangah (sejarah), Satua (cerita rakyat).

“Semua lontar berbahasa Jawa kuno dan Sansekerta. Cuma dalam Lontar Satua yang hanya menggunakan bahasa Bali,” jelasnya.

Pada areal museum ini terbagi menjadi empat ruangan. Ruang 1 menyimpan lontar atau buku tua, Ruang 2 tempat salinan lontar, Ruang 3 tempat administrasi dan Ruang 4 sebagai tempat pameran.

Terkait kedatangan wisatawan, Susilawati menyampaikan hampir setiap hari ada pengunjung yang datang ke museum Gedong Kirtya baik dari anak sekolah, sampai dengan wisatawan mancanegara. “Biasanya petugas kami memperagakan bagaimana cara menulis lontar kepada pengunjung,” terangnya.

Terakhir, Susilawati berharap lontar yang ada di Gedong Kirtya tetap terlindungi, terjaga dan terlestarikan dengan baik serta masyarakat mau datang untuk mengenal dan mengetahui bahwa kita mempunyai lontar yang di dalamnya mengandung ilmu bekal luar biasa.

Museum ini dibuka setiap hari Senin sampai Jumat dari pukul 08.00 hingga 16.00. Kecuali hari Jumat buka sampai pukul 13.00. Tarif yang dikenakan jika berkunjung ke museum Gedong Kirtya yakni anak-anak Rp 3 ribu, dewasa Rp 5 ribu, dan mancanegara Rp 25 ribu.