JurnalPatroliNews – Jakarta – Pergerakan pasar saham global sepanjang tahun ini diproyeksikan akan sangat dipengaruhi oleh tiga faktor kunci, yakni pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), memanasnya situasi geopolitik, serta bayang-bayang risiko inflasi yang belum sepenuhnya mereda. Pandangan tersebut disampaikan Pengamat Pasar Modal Hans Kwee dalam sebuah wawancara di televisi nasional.
Menurut Hans, optimisme pasar di awal tahun terutama disulut oleh euforia saham-saham berbasis AI. Dampaknya terasa kuat di kawasan Asia, khususnya Korea Selatan dan Taiwan, yang mencatat lonjakan indeks masing-masing sekitar 8 persen dan 4 persen. Kedua negara itu dinilai berada di posisi paling diuntungkan karena menjadi bagian penting dari rantai pasok industri AI global.
Namun, ia menilai investor kini semakin cermat. Pasar tidak lagi sekadar memburu emiten yang menjanjikan cerita besar tentang AI, melainkan perusahaan yang sudah mampu mencetak laba nyata. Selain itu, mulai terlihat rotasi investasi dari saham teknologi ke saham berkapitalisasi kecil, serta dari saham growth ke saham value. Pergeseran ini diperkirakan akan merambah pasar global, termasuk Bursa Efek Indonesia.
Di sisi lain, risiko geopolitik masih menjadi sumber ketidakpastian utama. Eskalasi konflik Rusia-Ukraina, ketegangan politik di Venezuela, hingga gelombang demonstrasi di Iran berpotensi memicu kenaikan harga komoditas dan memperbesar volatilitas pasar keuangan. Meski begitu, Hans menilai arah pasar masih cenderung positif, dengan peluang indeks global bergerak menuju level 9.000, meskipun disertai fluktuasi yang lebih tajam.
Untuk pasar domestik, penguatan IHSG di tengah pelemahan Rupiah dan perlambatan ekonomi dinilai sebagai fenomena yang wajar. Hans menjelaskan, pasar saham Indonesia banyak digerakkan oleh kelompok masyarakat menengah atas yang masih memiliki daya beli dan likuiditas kuat. Dari sekitar 20 juta investor pasar modal, mayoritas berasal dari segmen ini, sementara tekanan ekonomi lebih dirasakan oleh lapisan bawah.
“Bank Indonesia telah memangkas suku bunga sekitar 150 basis poin dan menambah likuiditas sekitar Rp200 triliun. Dampaknya, bunga perbankan turun dan sebagian dana mengalir ke pasar saham. Ini terlihat dari meningkatnya nilai transaksi di bursa,” jelas Hans.
Ia menambahkan, maraknya aksi korporasi seperti merger, akuisisi, dan ekspansi bisnis oleh grup-grup besar juga menjadi magnet bagi investor. Pelaku pasar melihat peluang keuntungan di tengah situasi ekonomi yang menantang, sehingga justru mendorong sebagian masyarakat untuk menempatkan dana di instrumen saham.
Minat investor pun banyak tertuju pada emiten-emiten milik konglomerasi besar seperti grup Prajogo Pangestu, Salim, dan Bakrie. Ditambah lagi, arus dana asing yang sebelumnya keluar kini mulai kembali masuk ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Data MSCI menunjukkan indeks emerging market melonjak 34 persen sepanjang 2025, jauh melampaui kenaikan S&P 500 yang berada di kisaran 17,8 persen.
Dengan kombinasi sentimen global, likuiditas domestik, dan kembalinya dana asing, IHSG dinilai masih berpeluang melanjutkan penguatan hingga menembus level 9.000. Meski demikian, investor diingatkan untuk tetap waspada karena risiko dan volatilitas pasar juga meningkat.














