BI Hentikan Penayangan Data Arus Modal Asing Mingguan

JurnalPatroliNews – Jakarta – Bank Indonesia memutuskan untuk tidak lagi menampilkan laporan mingguan mengenai pergerakan aliran modal asing di laman resminya. Kebijakan ini mulai berlaku sejak akhir pekan lalu, menandai perubahan dalam pola publikasi data yang selama ini rutin disampaikan bank sentral.

Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa ke depan Bank Indonesia hanya akan menyampaikan pembaruan terkait kepemilikan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Sementara informasi lain yang sebelumnya disajikan secara berkala tidak lagi dipublikasikan dalam satu laporan mingguan.

Selama ini, laporan mingguan BI memuat berbagai indikator pasar keuangan, mulai dari pergerakan nilai tukar rupiah, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN), yield obligasi Amerika Serikat (US Treasury), hingga dinamika arus dana asing. Data tersebut juga mencakup transaksi investor nonresiden di pasar saham, SBN, dan SRBI, serta perkembangan premi credit default swap (CDS).

Ramdan menyebutkan, penyesuaian ini dilakukan untuk memperkuat aspek akuntabilitas dan keandalan data. Menurutnya, informasi mengenai aliran modal asing kini dapat diakses langsung dari sumber resminya masing-masing.

“Untuk data arus modal asing di pasar saham dan SBN, publik dapat merujuk ke situs Bursa Efek Indonesia serta Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan,” kata Ramdan, dikutip Senin, 9 Februari 2026.

Sebagai catatan, pada pekan terakhir Januari 2026, BI masih merilis data tersebut. Saat itu, tercatat arus modal asing keluar dari pasar keuangan domestik mencapai Rp12,55 triliun. Angka tersebut berasal dari penjualan bersih investor nonresiden di pasar saham sebesar Rp12,4 triliun dan di pasar SBN senilai Rp2,77 triliun, sementara di SRBI justru terjadi pembelian bersih Rp2,61 triliun.

Secara kumulatif sepanjang 2026 hingga 29 Januari, investor asing membukukan beli neto Rp4,84 triliun di pasar saham dan Rp6,18 triliun di SRBI. Di sisi lain, terjadi jual neto tipis Rp10 miliar di pasar SBN.

Pada periode yang sama, premi CDS Indonesia tenor lima tahun tercatat berada di level 75,31 basis poin. Angka ini mengalami kenaikan dibandingkan posisi sepekan sebelumnya di 73,05 basis poin, yang mencerminkan meningkatnya persepsi risiko investor terhadap surat utang pemerintah Indonesia.