JurnalPatroliNews | Jakarta — Pasar rakyat tidak sekadar menjadi tempat bertemunya pedagang dan pembeli. Bagi masyarakat kecil, pasar merupakan ruang kehidupan yang menopang ekonomi keluarga sekaligus membangun hubungan sosial di tengah masyarakat.
Pandangan itu disampaikan Budi Mulyawan, SH, Ketua Umum DPN Komunitas Banteng Asli Nusantara (Kombatan), sekaligus Pendiri dan Ketua Dewan Pembina Jaya Center Foundation (JCF).
Menurut Budi, pasar rakyat memiliki posisi strategis dalam menggerakkan perekonomian, terutama bagi masyarakat yang menggantungkan penghasilan dari perdagangan dan sektor informal.
“Pasar bukan hanya tempat jual beli. Pasar adalah ruang hidup. Di sana orang mencari makan, mencari pekerjaan, membangun jaringan sosial, sekaligus mempertahankan harapan hidup,” ujar Budi, kepada awak media, Minggu (30/8/2026).
Ia menjelaskan, pasar merupakan sebuah ekosistem yang melibatkan banyak pihak, mulai dari petani, nelayan, pengepul, sopir, buruh bongkar muat, tukang parkir, pedagang hingga pelaku UMKM. Aktivitas tersebut menciptakan efek ekonomi berantai yang menghidupkan berbagai sektor lainnya.
“Kalau ekonomi warga adalah gerbong, pasar adalah lokomotifnya. Ketika pasar bergerak, banyak sektor ikut bergerak,” katanya.
Budi juga menilai pasar rakyat mempunyai fungsi sosial yang tidak sepenuhnya dapat digantikan pusat perbelanjaan modern maupun perdagangan digital. Interaksi antara pedagang dan pembeli dibangun bukan hanya berdasarkan harga, tetapi juga kepercayaan.
Di pasar, kata dia, masih terdapat praktik utang-piutang, arisan, paguyuban, koperasi dan gotong royong. Pasar juga menjadi ruang pertukaran informasi mengenai pekerjaan, keluarga maupun persoalan kehidupan sehari-hari.
“Pasar bukan mesin kasir. Pasar adalah ruang hidup. Di pasar, uang bertemu manusia dan manusia bertemu manusia,” ujarnya.
Dalam konteks Jakarta, Budi melihat pasar memiliki peran penting dalam menjaga ketersediaan dan distribusi pangan. Karena itu, pengelolaan pasar harus ditempatkan sebagai bagian dari strategi pembangunan ekonomi daerah sekaligus ketahanan pangan.
Ia menyoroti peran Perumda Pasar Jaya yang menurutnya tidak semestinya hanya dipandang sebagai pengelola aset. Badan usaha milik Pemprov DKI Jakarta tersebut harus menjadi instrumen pelayanan publik sekaligus penggerak ekonomi masyarakat.
Menurut Budi, ukuran keberhasilan pengelolaan pasar bukan hanya jumlah pasar yang dikelola atau dibangun, tetapi juga sejauh mana pedagang dan masyarakat memperoleh pelayanan yang baik.
“Karena pasar menyangkut hajat hidup masyarakat, maka ukuran keberhasilan Perumda Pasar Jaya bukan hanya berapa banyak pasar yang dikelola, tetapi seberapa baik pelayanan yang diterima pedagang dan masyarakat,” tuturnya.
Budi mengakui pembenahan dan revitalisasi pasar telah dilakukan. Namun, evaluasi tetap diperlukan karena sejumlah pasar masih menghadapi persoalan fasilitas, sanitasi, drainase, parkir, keamanan, kebersihan dan penataan pedagang.
Menurutnya, revitalisasi tidak boleh hanya berorientasi pada pembangunan fisik. Perbaikan atap, toilet, drainase, listrik, akses, parkir dan keamanan memang penting, tetapi peningkatan kualitas pedagang serta tata kelola juga harus menjadi prioritas.
Pedagang perlu mendapat pendampingan mengenai pemasaran digital, pencatatan keuangan, pengemasan produk, pelayanan konsumen dan sistem pembayaran digital. Sementara pengelola harus menerapkan manajemen profesional, transparan dan adaptif terhadap perubahan perilaku konsumen.
“Pasar rakyat tidak boleh hanya diperbaiki gedungnya. Pedagangnya juga harus naik kelas dan pengelolaannya harus naik kelas,” tegas Budi.
Ia menilai tantangan pasar rakyat semakin berat karena harus bersaing dengan minimarket, pusat perbelanjaan dan perdagangan elektronik. Namun, modernisasi tidak boleh menghilangkan karakter sosial dan kerakyatan pasar tradisional.
“Jangan membuat pasar rakyat kehilangan jiwanya ketika dimodernisasi. Yang harus dimodernisasi adalah fasilitas, pelayanan, tata kelola dan kemampuan pedagangnya,” katanya.
Budi juga memandang pasar sebagai pintu masuk menuju kemandirian ekonomi. Sektor perdagangan memberikan kesempatan bagi masyarakat memulai usaha dengan modal relatif kecil, kemudian berkembang melalui pengalaman dan jaringan.
“Pasar tidak bertanya seseorang punya ijazah apa. Pasar memberikan ruang bagi orang untuk mencoba, belajar, bekerja dan bangkit kembali,” ujarnya.
Dalam konteks tersebut, Pasar Induk Kramat Jati dinilai memiliki posisi strategis karena menjadi bagian dari rantai distribusi pangan bagi Jakarta dan wilayah sekitarnya. Menurut Budi, pengelolaannya membutuhkan visi jangka panjang yang mempertimbangkan pertumbuhan penduduk, teknologi, pola konsumsi dan kebutuhan distribusi pangan.
Ia juga mengingatkan pentingnya regenerasi pedagang. Pasar rakyat jangan sampai identik dengan kondisi kumuh, tidak aman dan tidak nyaman sehingga generasi muda enggan menjadikannya sebagai pilihan usaha.
“Pasar jangan sampai menjadi museum ekonomi rakyat. Pasar harus menjadi inkubator UMKM dan tempat lahirnya pengusaha-pengusaha baru,” ungkapnya.
Budi menilai digitalisasi justru harus dimanfaatkan untuk memperkuat pasar rakyat, bukan dianggap sebagai ancaman. Pembayaran digital, media sosial, pencatatan transaksi dan pemesanan daring dapat membantu pedagang memperluas pasar sekaligus meningkatkan efisiensi usaha.
Pada akhirnya, Budi mengibaratkan pasar sebagai paru-paru ekonomi rakyat. Selama masih ada pedagang yang menggantungkan kehidupan keluarganya pada satu los kecil dan masyarakat yang memenuhi kebutuhan sehari-hari di pasar, keberadaan pasar tetap menjadi bagian penting dari kehidupan ekonomi warga.
“Selama masih ada warga yang bangun pukul tiga pagi untuk pergi ke pasar, selama masih ada ibu yang menawar harga demi memenuhi kebutuhan anaknya, dan selama masih ada pedagang yang menggantungkan masa depan keluarganya pada satu los kecil, maka pasar adalah napas kehidupan ekonomi warga,” kata Budi.
Karena itu, pemerintah daerah dan Perumda Pasar Jaya dinilai harus memastikan revitalisasi tidak berhenti pada bangunan, tetapi benar-benar menghidupkan seluruh ekosistem di dalamnya.
“Tugas kita bukan sekadar membangun pasar. Tugas kita adalah membangun perekonomian melalui pasar dan memastikan napas ekonomi warga tidak pengap. Pasar hidup, warga hidup. Pasar mati, ekonomi rakyat ikut sesak,” tutup Budi.















Komentar