JurnalPatroliNews – Jakarta – Organisasi masyarakat nasionalis Komunitas Banteng Asli Nusantara (Kombatan) secara tegas menyatakan dukungan penuh kepada Megawati Soekarnoputri untuk kembali memimpin PDI Perjuangan sebagai Ketua Umum periode 2025–2030.
Ketua Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Kombatan, Budi Mulyawan yang dikenal sebagai saksi sejarah tragedi berdarah 27 Juli 1996 atau Kudatuli, menegaskan bahwa kepemimpinan Megawati wajib dipertahankan demi menjaga stabilitas PDI Perjuangan dan peta politik nasional.
“Sejarah Pemilu 2024 mencatat adanya guncangan besar, baik di tubuh PDI Perjuangan maupun dalam lanskap politik nasional. Jika tidak dipimpin oleh Ibu Megawati, bukan tidak mungkin nasib partai ini akan lebih tragis dibandingkan Golkar, di mana ketua umumnya, Airlangga Hartarto, mendadak mengundurkan diri,” ujar Budi Mulyawan yang akrab disapa Chepy, dalam keterangannya yang dikutip Minggu (27/7/2025).
Menurut Chepy, berkat ketangguhan dan pengalaman Megawati sebagai politisi senior sekaligus Presiden Kelima RI, PDI Perjuangan mampu bertahan meskipun diguncang oleh manuver politik internal. Ia menyebut tekanan tersebut datang dari tiga sosok yang masih memiliki hubungan keluarga, yakni Presiden Joko Widodo, putranya Gibran Rakabuming Raka, dan menantunya Bobby Nasution.
“PDIP tetap berdiri kokoh, meski menghadapi tekanan politik yang jauh lebih dahsyat dibandingkan Partai Demokrat yang nyaris dikudeta oleh Moeldoko, orang kepercayaan Jokowi. Yang kami rasakan lebih menyakitkan karena kader partai sudah berjuang mengantarkan Jokowi dua kali jadi presiden, Gibran jadi Wali Kota Solo, dan Bobby jadi Gubernur Sumut. Namun akhirnya mereka malah berbalik arah dan menghancurkan partai sendiri dalam Pemilu 2024,” ucapnya.
Chepy mengingatkan, badai suksesi kekuasaan partai nasional yang dimulai sejak Pemilu 2024 diprediksi masih akan terus berlangsung hingga Pemilu 2029. Karena itu, lanjutnya, PDIP harus waspada terhadap ancaman kudeta terselubung yang dilakukan dengan cara-cara halus dan sistematis.
“Tragedi kudeta terhadap PDI pro Megawati pada 27 Juli 1996 oleh rezim Orde Baru sangat mungkin terjadi kembali, tapi dalam bentuk yang lebih halus dan licik. Kudatuli Jilid II bisa saja muncul dengan skenario devide et impera dan kepentingan politik yang dikapitalisasi secara masif,” ujarnya.
Ia menegaskan, hanya Megawati yang mampu mengamankan partai dari segala ancaman politik, termasuk manuver yang berpotensi menggerus kekuatan partai dalam Pemilu mendatang.
“Kombatan yakin, Ibu Megawati adalah sosok paling tepat untuk memimpin PDIP menghadapi dinamika politik hingga Pemilu 2029. Ia adalah benteng terakhir partai dalam menjaga ideologi, solidaritas, dan kelangsungan perjuangan politik bangsa,” kata Chepy.
Lebih jauh, ia menilai Pemilu 2024 bukan sekadar ajang politik lima tahunan biasa, melainkan momentum krusial dalam transisi kekuasaan. Menurutnya, secara historis, setiap dua dekade Indonesia mengalami perubahan besar dalam tatanan politik nasional.
“Pemilu 2024 merupakan titik penting dalam perjalanan sejarah politik bangsa. Ini bukan hanya tentang pergantian kekuasaan, tapi juga tentang kelangsungan ideologi dan keberlangsungan partai-partai nasionalis menghadapi tekanan oligarki dan kekuatan eksternal,” pungkasnya.














