Maskulinisme Kian Menguat, Perempuan Jadi Sasaran Serangan di Ruang Digital dan Kehidupan Nyata

JurnalPatroliNews – Jakarta – Gelombang maskulinisme belakangan ini berkembang dengan agresif, terutama di ranah digital, hingga memicu berbagai bentuk kekerasan dan ujaran kebencian yang menargetkan perempuan.

Laporan France24 mengungkapkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, serangan terhadap perempuan di internet melonjak drastis seiring menguatnya wacana yang berupaya menghidupkan kembali misogini—mulai dari sikap merendahkan hingga permusuhan terbuka—serta terus menyerang gerakan feminis.

Fenomena tersebut tercermin dari maraknya kekerasan digital seperti penyebaran deepfake, aksi trolling, hingga doxing. Data PBB menunjukkan bahwa kekerasan berbasis teknologi kini merupakan salah satu bentuk kekerasan gender paling umum di dunia. Dalam survei global 2021, tercatat 85 persen perempuan pernah mengalami atau menyaksikan kekerasan online; dengan 74 persen terjadi di Eropa dan 90 persen di Afrika.

Perkembangan teknologi—khususnya kehadiran AI generatif—menjadi salah satu pemicu. Namun ledakan kekerasan siber ini juga diperkuat oleh narasi maskulinisme yang menggambarkan laki-laki sebagai pihak yang “dikalahkan” oleh feminisme. Berbagai ruang digital seperti forum incel, konten influencer misoginis, hingga komunitas anti-feminis tersebar luas dan semakin mudah diakses laki-laki muda, bahkan bisa muncul sebagai rekomendasi algoritma dalam hitungan menit.

Menurut European Institute for Gender Equality (EIGE), kekerasan online tidak lagi bisa dianggap sebagai persoalan personal. Ia merupakan bagian dari mata rantai kekerasan terhadap perempuan secara menyeluruh. Retorika maskulinisme memberi pembenaran ideologis, mendorong aksi kolektif yang bertujuan membungkam perempuan, terutama mereka yang aktif di ruang publik.

Alice Apostoly dari Gender in Geopolitics Institute menegaskan bahwa tindakan ribuan laki-laki yang menyebarkan materi pornografi—baik asli maupun manipulasi—di platform seperti Facebook, WhatsApp, hingga Telegram merupakan bagian dari bentuk kekerasan sistematis terhadap perempuan.

Narasi maskulinisme juga memperkuat stereotip merendahkan perempuan dan memantik serangan yang lebih terorganisir terhadap aktivis feminis, jurnalis, politisi, hingga figur publik perempuan.
Fenomena ini jauh lebih luas dari sekadar komunitas incel; banyak kelompok lain yang mendorong nostalgia terhadap tatanan patriarki, menabur kebencian terhadap perempuan, dan mempromosikan gagasan bahwa laki-laki kini termarginalkan.

Stephanie Lamy, penulis La Terreur masculiniste, menjelaskan bahwa gerakan maskulinisme mencakup berbagai ideologi yang memuliakan kekerasan dan bekerja dalam jaringan yang terstruktur.

Dampaknya pun merembet ke dunia nyata. Di Prancis, setidaknya tiga laki-laki ditahan antara 2021–2023 atas dugaan merencanakan serangan terhadap perempuan. Salah satunya diyakini mendapat dorongan dari forum incel. Lamy menegaskan tidak ada “pelaku tunggal” dalam kasus seperti ini; kebencian mereka adalah hasil pembentukan bersama dalam komunitas digital.

Persoalan lain yang menghambat penanggulangan fenomena ini adalah lemahnya perangkat hukum. Meski sejumlah negara mulai mengatur tindak kekerasan berbasis teknologi, banyak regulasi yang dinilai tidak cukup kuat. Misogini bahkan jarang disebut secara eksplisit dalam aturan ujaran kebencian, meski pola radikalisasinya memiliki kemiripan dengan ekstremisme.