JurnalPatroliNews – Jakarta – Isu rencana penggabungan dua raksasa teknologi Asia Tenggara, Grab dan GoTo, diperkirakan tidak hanya memengaruhi kompetisi bisnis ride-hailing serta layanan pesan-antar makanan, tetapi juga dapat memberi dampak besar pada industri bank digital di Indonesia.
Hal ini karena masing-masing grup memiliki amunisi fintech: Bank Jago di pihak GoTo dan Superbank dalam ekosistem Grab.
Di tengah dinamika internal GoTo yang disebut berkaitan dengan golden share pemerintah dan perubahan jajaran manajemen, Superbank justru terus melaju dengan rencana penawaran umum perdana (IPO) senilai Rp3,1 triliun yang dijadwalkan berlangsung pada pertengahan Desember. IPO tersebut dipandang strategis untuk memperkuat posisi fintech yang mungkin terbentuk pascamerger—apa pun keputusan akhir dari proses konsolidasi kedua perusahaan.
Chulayuth Lochotinan, analis teknologi Capco, menilai kemungkinan penggabungan Grab–GoTo dapat menghasilkan efek besar bagi ekosistem digital di kawasan.
“Jika merger ini benar-benar terjadi, dampaknya bisa sangat masif bagi industri,” ujarnya seperti dikutip Business Times, Jumat 5 Desember 2025.
Saat ini Bank Jago berada di posisi kuat dan tercatat sebagai bank digital dengan simpanan terbesar kedua setelah SeaBank. Di sisi lain, Superbank—meski asetnya masih tertinggal dari pemain besar—telah menunjukkan tren peningkatan kinerja dan membukukan keuntungan pada kuartal III 2025.
Karena itu, IPO dipandang sebagai titik krusial bagi Superbank untuk memperkuat modal dan memperluas pertumbuhan.
“IPO yang berhasil akan menyediakan fondasi pendanaan untuk ekspansi, terlepas apakah merger Grab–GoTo terjadi atau tidak,” ujar Jayden Vantarakis dari Macquarie.
Sejumlah analis juga melihat peluang efisiensi yang signifikan jika kedua bank digital tersebut dapat saling berbagi teknologi, basis data, maupun infrastruktur. Menurut Chulayuth, skala yang lebih besar berpotensi menekan biaya, memperbaiki kualitas layanan, serta membuat produk keuangan digital lebih terjangkau bagi pengguna.
Namun, potensi hambatan tetap ada. Anosh Pardiwalla dari Oliver Wyman menyoroti kemungkinan terjadinya kompetisi dalam satu ekosistem apabila dua bank berjalan berdampingan, serta mempertanyakan arah jangka panjang strategi Bank Jago. Meski begitu, peluang Bank Jago dan Superbank untuk ikut dilebur dinilai kecil karena struktur kepemilikan kedua bank berbeda dan kompleks.













