JurnalPatroliNews – Jakarta – Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) terus mendorong penyelesaian pembangunan Bendungan Karangnongko sebagai bagian dari upaya strategis pemerintah dalam mewujudkan swasembada pangan dan ketahanan air nasional.
Menteri PUPR Dody Hanggodo menekankan bahwa pengelolaan sumber daya air tidak sebatas pada penyimpanan, tetapi juga mencakup pengaturan distribusi air secara berkelanjutan, terutama untuk mendukung irigasi pertanian sepanjang tahun.
“Setelah bendungan rampung secara fisik, kami akan fokus mempercepat pengembangan jaringan irigasi teknis. Hal ini krusial untuk meningkatkan produktivitas pertanian dan memperbanyak musim panen bagi para petani,” ujar Dody dalam pernyataannya di Jakarta, Sabtu.
Langkah ini menjadi bagian dari implementasi program prioritas Presiden Prabowo Subianto dalam mewujudkan Visi Astacita, yang menargetkan kemandirian pangan, energi, serta ketahanan air sebagai pilar pembangunan nasional.
Pembangunan Bendungan Karangnongko yang berlokasi di Desa Ngelo dan Desa Mendenrejo, di perbatasan Kabupaten Bojonegoro dan Blora, ditargetkan selesai pada 2026. Proyek ini telah dimulai sejak 2023 oleh BBWS Bengawan Solo melalui dua paket pekerjaan senilai Rp1,26 triliun.
Bendungan tersebut memiliki kapasitas tampung 59,1 juta meter kubik dan akan mengairi total lahan pertanian seluas 63.774 hektare. Rinciannya, 1.746 hektare di wilayah Blora melalui DI Karangnongko Kiri dengan debit air 2,85 m³/detik, serta 5.203 hektare di Bojonegoro melalui DI Karangnongko Kanan dengan debit 7,90 m³/detik.
Selain mendukung irigasi, bendungan ini juga diharapkan mampu memperkuat jaringan irigasi Solo Valley Werken yang telah eksis sejak era kolonial Hindia Belanda dan melayani area Bojonegoro hingga Surabaya seluas 62.000 hektare. Sistem irigasi ini akan memanfaatkan aliran Bengawan Solo secara efisien untuk meningkatkan produktivitas lahan pertanian secara berkelanjutan.
Dengan total area genangan 1.026,55 hektare, Bendungan Karangnongko juga akan menyediakan pasokan air baku hingga 1.150 liter per detik, yang dapat memenuhi kebutuhan air minum sekitar 270.305 jiwa di Bojonegoro, Blora, Tuban, dan Ngawi.
Selain itu, bendungan ini memiliki peran strategis dalam pengendalian banjir. Keberadaannya diperkirakan dapat mengurangi potensi banjir hingga 760 hektare, khususnya di wilayah hilir Bengawan Solo seperti Lamongan yang selama ini bergantung pada Bendung Gerak Bojonegoro, Babat, dan Sembayat.
Dengan berbagai manfaat tersebut, pembangunan Bendungan Karangnongko menjadi salah satu proyek prioritas nasional dalam mendukung pertumbuhan ekonomi daerah dan ketahanan sumber daya air untuk generasi mendatang.








